Radiasi Matahari di Bali Unggul Stabil, Ini Potensi Pemanfaatannya

Greenpeace Indonesia menilai Bali memiliki potensi energi surya yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik lantaran radiasi matahari yang stabil yakni 5,3 kWh/m2 per hari.
Ni Putu Eka Wiratmini | 27 September 2018 13:58 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, DENPASAR – Greenpeace Indonesia menilai Bali memiliki potensi energi surya yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik lantaran radiasi matahari yang stabil yakni 5,3 kWh/m2 per hari.

Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandiari mengatakan jika ditotal selama setahun Bali bisa menghasilkan listrik dari energi surya sebesar 32.000 GWh hingga 59.000 GWh selama setahun. Sementara, dengan asumsi pertumbuhan listrik di Bali 6,83%, maka diprediksi kebutuhan listrik akan sebesar 10.000 GWh pada 2027 dengan beban puncak 1.200 MW.

Menurutnya, jika 10% saja rumah memasang solar panel, maka sudah terpenuhi 5.000 GWh. Sebab, lahan yang dibutuhkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sangat kecil yakni sekitar 4-6% dari total lahan di Bali.

“Bali stabil radiasi mataharinya, 5 sampai 6 kWh per meter persegi per hari, sedangkan kota lain di Indonesia rata-rata cuma 4,3 kWh,” katanya, Kamis (27/9/2018).

Kata dia, terdapat dua kabupaten di Bali yang dinilai potensial untuk mengembangkan energi surya yakni Buleleng dan Klungkung. Dua kabupaten itu memiliki 52% dari total potensi energi surya di Bali dengan kapasitas 59.000 GWh per tahun.

“Kalau kondisinya saat ini, ada yang akan dibangun [PLTS] berkapasitas 1 MW, terus juga yang ada di Bangli dengan kapasitas 0,03 MW2, ini masih kecil menurut saya, karena yang lainnya masih didominasi diesel dan batu bara,” katanya.

Kasubdit Keteknikan Lingkungan Aneka EBT KESDM Martha Relita Sibarani mengatakan sejak 2015 Bali sudah dinobatkan sebagai center for the development of clean energy di Indonesia. Dengan penobatan ini, Bali akan dijadikan proyek percontohan bagi provinsi lainnya mengenai pusat penelitian energi baru terbarukan.

Bali juga diharapkan data menjadi provinsi pertama yang memproduksi energi bersih rendah emisi karbon dalam waktu tiga tahun.

Menurutnya, terkait proyek tersebut memang masih memerlukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah Bali. Apalagi, saat ini PLTS yang telah dibangun masih terbatas di beberapa daerah yakni 1 unit PLTS kapasitas 1 MW di Karangasem, 1 unit PLTS kapasitas 1 MW di Bangli, 1 unit PLTS kapasitas 20 kW di Karangasem, dan 9 unit PLTS kapasitas 15 kW (Bangli, Karangasem dan Klungkung).

“Kami sudah membangun 1 MW di Karangasem dan 1 MW di Bangli. Di Bangli bahkan sudah terkoneksi dengan PLN, ini proyek percontohan, baru di Bangli yang berfungsi, sementara Karangasem, pemdanya harus mempercepat dengan menetapkan perusda,” katanya.

Dia menuturkan, sebenarnya pemerintah berkomitmen target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 atau setara dengan 45 GW. Untuk mencapai kondisi itu, pada 2018, setidaknya sudah terealisasi 35 MW listrik yang dihasilkan dari EBT. Tetapi, kondisinya rencana tersebut belum juga terealiasi.

Padahal, jika pada 2025 nanti target 23% listrik dari EBT tercapai, maka Indonesia akan mampu menyumbang 54% energi bersih untuk dunia.

“PLTS yang dibangun pemerintah sudah 300 unit seluruh Indonesia, jadi jika Pemda meminta kepada kami, kami akan mengajukan Kemenkeu dianggarkan di tahun perencanaan,” katanya.

Tag : bali, panel surya
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top