Apa Manfaat Pertemuan IMF Buat Bali? Ini Sebagian Jawabannya

Oleh: Feri Kristianto 28 Agustus 2018 | 13:55 WIB
Apa Manfaat Pertemuan IMF Buat Bali? Ini Sebagian Jawabannya
Pekerja menggarap pembangunan apron timur Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Bali, Jumat (20/7)./Antara-Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, DENPASAR – Pertemuan IMF dan World Bank akan dihelat Oktober mendatang. Namun, kesibukan menyambut agenda tersebut sudah terdengar sejak berbulan-bulan lampau.

Meski demikian, seorang jurnalis dalam obrolan santai sempat bertanya, “Apa ya manfaat ajang IMF & World Bank Annual Meeting buat Bali?”

Pertanyaan ini sudah hampir selalu ditanyakan ketika jumpa pers terkait event tiga tahunan tersebut. Bisa jadi pertanyaan tersebut juga banyak bersemayam di benak warga Pulau Dewata.

Sebenarnya jawaban atas pertanyaan tersebut juga sudah sangat sering dipaparkan. Panitia hingga IMF juga sudah banyak memberikan gambaran melalui berbagai bentuk bagi khalayak. Hanya saja, dalam konteks pariwisata dan pembangunan Bali, ada manfaat kasat mata dan lupa disadari dari awal.

Keuntungan Berganda

Sebagaimana ajang KTT APEC 2013 lalu, Bali akan mendapatkan proyek infrastruktur “gratis”. Disebut gratis karena meskipun ada dana APBD dikeluarkan tetapi jumlahnya tidak signifikan dibandingkan pengeluaran pemerintah pusat. Jika proyek sebesar itu harus dibiayai oleh APBD Bali 2018 yang “hanya” senilai Rp5,9 triliun tentu tidak akan cukup.

Itu tentu keuntungan pertama. Di luar manfaat itu, ada keuntungan dari cepatnya pengerjaan proyek-proyek infrastruktur. Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat proses syukuran rampungnya patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) berujar Bali memiliki getaran spiritual atau fibrasi.

Kondisi itu membuat investor terkendala masalah-masalah kecil yang tidak ada di daerah lain di Indonesia. Hanya saja, kali ini semua proyek infrastruktur berjalan lancar tidak seperti ketika terjadi penolakan dalam pembangunan Tol Bali Mandara pada 2012 silam.

Salah satunya, seperti yang bisa ditemui bagian sisi barat Bandara Ngurah Rai. Proses pembangunan di sisi barat seluas 500x900 meter, per Agustus progresnya mencapai 53,48%. Selain Apron barat, manajemen juga membangun apron di sisi timur dan sudah mencapai 80, 12%. Kedua pekerjaan itu ditargetkan rampung sebelum dimulainya ajang IMF & World Bank Annual Meeting pada 8-14 Oktober mendatang.

“Normalnya 1 tahun normalnya. Rata-rata kontrak kami awal 2018 selesai akhir tahun tetapi ini percepatan ya kami pepetkan,” jelas Kepala Humas Bandara Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim.

Perluasan lokasi parkir pesawat ini guna menambah kapasitas minimal 10 parking stand, 4 diantaranya di sisi timur dan 6 sisanya di sisi barat. Penambahan apron ini dalam jangka waktu pendek untuk melayani kebutuhan lonjakan pesawat saat ajang tiga tahunan itu berlangsung di Pulau Dewata.

Akan tetapi, dalam jangka waktu panjang, tambahan apron ini akan memberikan manfaat yang efektif dan efisien. Sejak lama bandara ini bermasalah dengan keterbatasan pergerakan di landasan pacu. Runway Ngurah Rai saat ini hanya dapat melayani pergerakan 30 unit pesawat per jam.

Pemrakarsa Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) Nyoman Nuarta berfoto dengan latar belakang Patung GWK di Ungasan, Badung, Bali, Selasa (31/7)./Antara-Fikri Yusuf

Membangun landasan pacu tambahan butuh usaha keras dan bisa dipastikan akan terganjal fibrasi seperti disebutkan oleh Pastika. Akibatnya, ada 60 permintaan slot penerbangan domestik dan internasional ke bandara ini yang terpaksa ditahan sementara.

Bila permintaan itu dipenuhi, runway harus mampu melayani pergerakan sebanyak 35 unit per jam. Sebenarnya, dari sisi landasan pacu dan terminal saat ini, Ngurah Rai sudah cukup siap untuk ditambah. Masalah terbatasnya apron menjadi kendala. Momen ini juga kesempatan emas bagi Ngurah Rai, karena pembangunannya juga dipercepat.

Kadisparda Bali Anak Agung Gde Yuniartha Putra menyatakan hampir semua negara berminat membuka penerbangan ke Bali, tetapi tidak bisa dilayani. Dia mengatakan perluasan apron sangat membantu karena untuk menambah landasan pacu sangat sulit dilakukan.

Di sisi lain, Bali butuh slot penerbangan untuk mendorong jumlah kedatangan wisman. Karena itu, momen ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk jangka panjang Bali.

“Ini dilematis karena di satu sisi Bali itu tulang punggung target pemerintah 20 juta wisman pada 2019, tetapi kalau tidak ada tambahan penerbangan akan susah,” jelasnya.

Nilai Tambah

Percepatan dan tidak normal juga terjadi dalam penyelesaian patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Demi memenuhi perhelatan IMF & WBG tersebut, objek wisata ini patung setinggi 121 meter ini rampung pada 31 Juli 2018. Padahal, seharusnya baru ditargetkan rampung pada 2019 mendatang. Karena akan menjadi lokasi host welcoming dinner IMF & WBG Annual Meeting maka penyelesaiannya dipercepat.

Objek wisata di Ungasan dan berjarak sekitar 11,5 Km dari bandara ini sempat menemui ketidakpastian penyelesaian selama 28 tahun. Sebelum akhirnya pemilik patung PT Garuda Adhimarta Indonesia diambil alih oleh PT Alam Sutera Realty Tbk. Bukan perkara mudah menyelesaikan patung ini, karena konstruksi di ketinggian. Tetapi semuanya harus dikebut.

Rampungnya GWK dan bandara nanti akan memberi nilai tambah bagi industri pariwisata Bali. Dalam industri pariwisata, keberadaan bandara baru tanpa adanya daya tarik wisata tentu tidak bisa memberikan manfaat. Keberadaan patung ini pun diprediksi akan menambah daya tarik Bali bagi turis luar.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana mengatakan patung GWK akan menjadi solusi masalah menurunnya kualitas wisman ke Bali. Menurutnya, pariwisata membutuhkan proses peremajaan agar tidak mengalami kejenuhan atau penurunan.

Patung ini akan menjadi rejuvenasi atau wujud peremajaan. Keberadaan patung seberat 3.000 ton ini akan menjadi landmark Bali sebagaimana New York punya patung Liberty, Paris dengan Eifel dan Sidney memiliki gedung Opera House. Sebagaimana maskot-maskot tersebut, GWK akan menarik minat wisatawan hanya untuk sekadar swafoto dan berdiri di lantai 22 melihat pemandangan Bali dari berbagi sudut. Tentu saja hal ini akan sejalan dengan potensi bertambahnya kedatangan wisatawan.

“Manfaat berikutnya adalah, kami tentu ingin bangun new community base tapi harus ada pusat dan inilah pusatnya. Kalau tidak ada growth center pariwisata sebagaimana Nusa Dua, dan Kuta,” paparnya.

Kapasitas bandara dan destinasi baru tanpa dibarengi dengan infrastruktur jalan raya juga bukan urusan mudah. Nah, gara-gara IMF & World Bank Group Annual Meeting, pusat membangun Underpass di Simpang Tugu Ngurah Rai. Pembangunan ini sekilas untuk ajang tersebut. Namun, dalam jangka panjang underpass senilai Rp168,3 miliar itu akan mengurai kemacetan.

Penyelesaian underpass simpang Ngurah Rai.

Simpang Tugu Ngurah Rai merupakan simpul kemacetan terparah di Bali daerah selatan. Disini terdapat tiga titik pertemuan pengendara tujuan Denpasar-Jimbaran dan sebaliknya, serta dari Bandara Ngurah Rai menuju Tol Bali Mandara. Shortcut sepanjang 712 meter ini tentu bukan solusi jangka panjang atas persoalan kemacetan di Bali.

Dua proyek lain yang tidak kalah penting adalah pengembangan TPA Suwung dan pengembangan Pelabuhan Benoa. TPA Suwung sudah bertahun-tahun menjadi “magnet” untuk mencela pulau eksotik ini karena keberadaan “gunung” sampah yang mengeluarkan aroma bau menyengat hidung. Begitu pula dengan Benoa yang bertahun-tahun tidak bisa mewujudkan pembangunan karena RIP terganjal izin Wali Kota Denpasar. Semuanya tuntas, menjelang pelaksanaan IMF & WBG Annual Meeting.

Kepala Task Force IMF & WBG Annual Meeting Peters Jacob menilai tidak fair jika persiapan ajang ini hanya berfokus terhadap pembiayaan. Dia menegaskan manfaat yang diperoleh sangat besar bagi Indonesia dan Bali khususnya.

Menurutnya, manfaat itu adalah meningkatkan sektor pariwisata, aktivitas ekonomi lokal, penciptaan lapangan kerja hingga promosi investasi dan perdagangan.

“Bayangkan ada ribuan orang penting datang ke sini mereka membuktikan sendiri Indonesia dan Bali seperti apa. Itu promosi yang murah sebenarnya,” jelasnya.

Terlepas dari penjelasan tersebut, Bali dan masyarakat juga harus berterima kasih dengan event ini. Mengutip data paparan panitia IMF & WBG Annual Meeting, biaya konstruksi infrastruktur itu mencapai Rp4,9 triliun.

Angka ini mungkin lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk infrastruktur menjelang KTT APEC 2013 sekitar Rp2,4 triliun untuk Tol Bali Mandara dan Bandara Ngurah Rai Rp2,8 triliun.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana menyatakan, ajang ini akan menjadi stimulus bagi perekonomian Bali. Dia memperkirakan dengan kedatangan 15.000 orang delegasi, akan meningkatkan perputaran ekonomi. Perekonomian daerah ini bersumber dari akomodasi makan dan minum.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya