Pemerintah Diminta Segera Wujudkan Energi Baru dan Terbarukan

Oleh: Ema Sukarelawanto 27 Juli 2018 | 18:55 WIB
Energi terbarukan/Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR—Pemerintah diminta segera mewujudkan energi baru dan terbarukan dengan mengubah paradigma dari energi sebagai komoditas menjadi energi sebagai penggerak perekonomian.

Pemerhati bidang energi Handoko mengatakan sumber energi baru dan terbarukan di dalam negeri sangat melimpah sehingga sudah selayaknya dimanfaatkan secara maksimal, akan tetapi kendala yang dihadapi juga tidak kecil salah satunya teknologinya yang mahal serta masih harus didatangkan dari luar negeri (impor).

“Agar energi baru dan terbarukan dapat dikembangkan maka penguasaan teknologi juga harus mendapatkan prioritas tidak lagi tergantung luar negeri,” kata Handoko, seperti dalam rilis Jumat (27/6/2018).

Handoko yang juga Sekjen Projo (Ormas Pro Jokowi) mengatakan dari sisi energi primer, saat ini lebih dari 70% pembangkit listrik di Indonesia menggunakan minyak bumi dan batubara.

Melimpahnya batubara dalam negeri membuat PLTU Batubara (Coal Fired Power Plant/ CFPP) menjadi kontributor terbesar dalam konfigurasi pembangkit kita. Memang dalam jangka pendek, PLTU Batubara bisa menjadi solusi penyediaan energi listrik yang terjangkau dari sisi harga," ujar dia.

Namun harus diingat keberadaan batubara dan minyak bumi semakin berkurang dan habis pada akhirnya. Volatilitas harga minyak dunia yang sangat dinamis dan selalu berkait dengan harga komoditas batubara, juga akan turut mengerek harga jual listrik. Bayangkan saja bila tiba-tiba harga minyak dunia melaju sampai US$100 per barrel tentunya biaya produksi listrik akan meningkat tajam,

"Beda kondisinya kalau Indonesia mengandalkan penggunaan listrik yang pembangkitnya digerakkan oleh tenaga angin, air, atau juga tenaga matahari dan panas bumi," katanya.

Praktisi bisnis pembangkit listrik ini menambahkan bahwa Indonesia sudah cukup lama menguasai teknologi energi baru terbarukan, sayangnya pemanfaatannya masih sangat kecil.

"Kita punya pembangkit tenaga air, baik PLTA maupun PLTMH (pembangkit listrik tenaga minihidro). Juga Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi/ Geothermal. Sungai-sungai di Indonesia menyimpan potensi energi yang sangat besar, sekitar 75 GW,” katanya.

Begitu juga posisi Indonesia yang berada di area cincin api Asia Pasifik, yang menjadi tempat bertemunya sejumlah gunung berapi yang masih aktif di wilayah Asia Pasifik, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan potensi geothermal terbesar ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat, dengan potensi lebih dari 28 GW, tetapi pemanfaatannya masih sangat kecil.

Handoko mengatakan harus diakui harga jual listrik, PLTU Batubara memang paling murah. Saat ini PLN bisa membeli dengan harga US$5 cent per kWh dari Independent Power Producer (IPP) tetapi harus diingat harga batubara fluktuatif dan tidak ramah lingkungan.

Sedangkan pembangunan PLTA harganya mahal, antara lain karena porsi pekerjaan sipil (civil work) yang besar, seperti pengerjaan bendungan dan penstock (pipa pesat) serta lokasinya yang sulit diakses.

Tetapi energi primernya bisa diperoleh dengan gratis dan bisa dibangun beberapa pembangkit dalam satu aliran sungai dalam jarak yang berdekatan (cascade/ berjenjang) dengan memanfaatkan perbedaan elevasi.

Handoko menjelaskan jika selama ini, banyak masalah yang harus dihadapi para investor untuk membangun pembangkit listrik, mulai dari pengurusan perizinan, pembebasan lahan, atau juga isu sosial yang melibatkan masyarakat sekitar, karena lokasi pemukimannya akan dijadikan bangunan pembangkit.

Terkait hal itu, tambah Handoko, pemerintah telah membuat berbagai terobosan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, mulai pemangkasan birokrasi perizinan hingga kebijakan-kebijakan yang mempermudah investasi.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya