Pemerintah Kaji Bangun Kereta Bawah Tanah di Bali

Studi kelayakan yang dilakukan oleh investor Korea Selatan tersebut ditargetkan rampung pada April 2024.
Pekerja melakukan aktivitas pembangunan terowongan bawah tanah MRT di Jakarta./JIBI-Dedi Gunawan
Pekerja melakukan aktivitas pembangunan terowongan bawah tanah MRT di Jakarta./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, DENPASAR – Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Provinsi Bali rupanya mengerucutkan subway atau jaringan kereta bawah tanah sebagai transportasi massal yang akan dibangun untuk mengatasi kemacetan di kawasan pariwisata Bali.

PJ Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya menjelaskan subway merupakan pilihan paling rasional bagi transportasi Bali saat ini, karena memanfaatkan jalur bawah tanah Bali potensial dan belum teroptimalkan hingga saat ini. Untuk memuluskan langkah tersebut, Mahendra menjelaskan usulan tersebut akan dilengkapi dengan hasil studi kelayakan yang saat ini masih berjalan. Secara langsung, Mahendra meminta Menteri BUMN Erick Thohir mengawal pembangunan tersebut agar segera terealisasi.

Rencananya, kereta bawah tanah tersebut akan dibangun dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Central Parkir Kuta, kemudian ke Seminyak, dan Canggu. Diharapkan, Central Parkir Kuta sebagai Hub TOD ke depan dapat menjadi tempat city check in keberangkatan atau bagian dari layanan Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Studi kelayakan yang dilakukan oleh investor Korea Selatan tersebut ditargetkan rampung pada April 2024, setelah itu akan dilakukan tahapan selanjutnya. “Saat ini studi kelayakan masih berjalan, targetnya rampung April,” jelas Mahendra dikutip Rabu (31/1/2023)

Mahendra juga menjelaskan subway Bali ini tidak akan mendapat subsidi dari pemerintah, karena mayoritas penumpangnya merupakan wisatawan dan pelaku perjalanan bisnis. Hal tersebut sesuai dengan arus transportasi di kawasan Bali Selatan yang 85% didominasi oleh kendaraan untuk kebutuhan pariwisata, dan hanya 15% kendaraan masyarakat biasa.

Pertimbangan utama memilih jalur bawah tanah karena lahan permukaan di Badung Selatan sangat terbatas, karena masifnya pembangunan hotel, villa hingga perumahan warga. Proses pelebaran jalan juga sudah tidak memungkinkan karena lahan terbatas dan mahal, seperti pembebasan lahan untuk shortcut Canggu yang panjangnya 335 membutuhkan biaya Rp25 miliar, padahal biaya pembangunan jalan hanya Rp6,2 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper