AP 1 Cabut Insentif Pembukaan Rute Baru di Ngurah Rai

Manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai mencabut insentif untuk pembukaan rute baru bagi maskapai penerbangan.
Feri Kristianto | 01 Oktober 2018 13:59 WIB
Upacara melaspas fasilitas baru Bandara Ngurah Rai, Jumat (28/9/2018). - Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR — Manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai mencabut insentif untuk pembukaan rute baru bagi maskapai penerbangan karena adanya penyesuaian tarif jasa pendaratan, penempatan dan penyimpanan pesawat udara atau (PJP4U).

PT Angkasa Pura 1 (Persero) pada saat ini lebih memilih fokus memberikan insentif berupa landing fee sampai dengan 100% selama 1 tahun bagi penambahan rute baru untuk bandara selain Bali. Fokus lainya adalah penambahan rute lokal untuk mendukung pengembangan pariwisata di Indonesia Timur.

“Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada pimpinan maskapai karena khusus untuk Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai tidak ada insentive for new routes yang didapatkan,” papar Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP 1 Devy Wildasari Suradji, dikutip dari siaran pers, Senin (1/10/2018).

Manajemen Ngurah Rai telah sosialisasi penyesuaian tarif PJP4U, Garbarata & Check in Counter kepada Ketua Airline Operators Committee (AOC), pimpinan maskapai, ground handling kepada pengguna jasa di bandara berkapasitas 25 juta per tahun ini.

Devy mengungkapkan manajemen AP 1 saat ini fokus memberikan perhatian besar pada tingkat pelayanan dibandara.

Saat ini, pertumbuhan pengguna jasa di 13 bandara yang dikelola AP 1 meningkat sebesar 5,9% pada akhir 2017 lalu.Guna memenuhi kebutuhan pengguna jasa, perseroan melakukan penyesuaian tarif PJP4U, garbarata, check in counter di seluruh bandara yang dikelola termasuk Ngurah Rai mulai 1 Oktober.

Devy menekankan penyesuaian tarif tersebut sesuai dengan dengan persetujuan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No.PR.003/4/4 PHB 2018 pada tanggal 21 September 2018, dengan mempertimbangkan besaran biaya pokok, pengembalian investasi untuk pengembangan pada 13 Bandar Udara yang diusahakan AP 1.

Selain itu dan untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa Bandar Udara serta memperhatikan masukan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang pada prinsipnya dapat memahami usulan penyesuaian tarif dimaksud.

“Kami melakukan penyesuaian tarif ini tidak semata-mata dilakukan begitu saja, PT. Angkasa Pura I (Persero) pun sudah melakukan melakukan evaluasi dan uji tingkat pelayanan dengan beberapa instansi terkait termasuk dengan INACA dan Airlines di Jakarta,” jelasnya.

Co GM Ngurah Rai Sigit Herdiyanto menekankan penyesuaian tarif harus dilakukan untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Ditegaskan sudah sangat lama tidak adanya penyesuaian tarif untuk PJP4U. Kenaikan PJP4U terakhir kali dilakukan pada tahun 2011 untuk PJP4U Dalam Negeri dan tahun 2009 untuk PJP4U Luar Negeri.

Sigit menyatakan tidak adanya kenaikan tersebut tidak seirama dengan tuntutan peningkatan dan pelayanan kepada pengguna jasa Bandar Udara membuat peningkatan biaya pemeliharaan dan biaya operasional yang cukup signifikan. Pada 2018, bandara terpadat kedua setelah Soekarno-Hatta ini meningkatkan pelayanan berupa overlay runway, perawatan garbarata, penerapan parking guidance system pada parkir mobil bertingkat.

Selain itu, pembuatan repacking area, smartlane X-ray, dan pengadaan body scanner untuk mempercepat proses pemeriksaan pada area screening check point, mesin self check in untuk mengefektifkan waktu tanpa harus mengantri di check in counter, penambahan check in counter internasional, dan yang terbaru adalah orientation zone sebagai area “stress release”.

Tag : bandara ngurah rai
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top