Bisnis.com, DENPASAR – Pertumbuhan Ekonomi Bali pada kuartal I/2026 tetap mampu tumbuh 5,58% (year-on-year/yoy) walaupun tengah mengalami gejolak politik global dan efisiensi pemerintah yang berdampak ke pariwisata.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Arwani menjelaskan ekonomi Bali mampu tumbuh dan berdaya tahan di tengah ketidakpastian global karena didorong oleh capaian sejumlah Lapangan Usaha (LU).
"Ekonomi Bali mampu tumbuh 5,58% di tengah ketidakpastian global, walaupun pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal I/2025 yang tumbuh 5,86%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kinerja hampir di seluruh lapangan usaha, terutama lapangan usaha administrasi pemerintahan dan industri pengolahan," kata Achris, Rabu (6/5/2026).
Dari catatan Bisnis, sepanjang kuartal I/2026 terjadi beberapa peristiwa yang berdampak ke Bali. Saat perang Amerika, Israel dengan Iran meletus, penerbangan dari Bali ke Timur Tengah ditutup, sehingga wisatawan Eropa banyak yang tertunda kedatangannya ke Bali.
Walaupun begitu, Gubernur Bali Wayan Koster mengklaim gejolak tersebut tidak berdampak besar ke pariwisata Pulau Dewata.
Efisiensi pemerintah juga berdampak ke industri MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), banyak hotel yang dulu ramai dengan kegiatan pemerintah kini mulai sepi.
Baca Juga
Merujuk data BPS, LU dengan pertumbuhan tertinggi masih berada pada LU administrasi pemerintah yang tumbuh 16,67% (yoy), diikuti industri pengolahan 8,93% (yoy). Lebih lanjut, LU pertanian tumbuh menguat sebesar 2,36% (yoy) yang didorong peningkatan kinerja subsektor perkebunan dan peternakan.
Kemudian lapangan usaha konstruksi juga tumbuh menguat sebesar 4,87% (yoy) didukung tingginya realisasi proyek strategis serta investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sementara itu, LU Akmamin (Akomodasi dan Makan Minum) masih tumbuh kuat sebesar 6,44% (yoy), meskipun melambat seiring periode low season dan penutupan beberapa penerbangan karena konflik Timur Tengah.
Dari sisi pengeluaran, ekonomi Bali yang tumbuh kuat utamanya didukung pertumbuhan konsumsi pemerintah yang meningkat sebesar 20,28% (yoy) yang bersumber dari realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah.
Komponen dengan pertumbuhan terbesar berikutnya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,78% (yoy).
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,02% (yoy) sejalan dengan aktivitas belanja masyarakat pada momen HBKN Nyepi, Ramadan, dan Idulfitri, disertai program potongan harga belanja dan insentif Pemerintah.
Di sisi lain, ekspor luar negeri tumbuh 2,84% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan melambatnya ekspor jasa (kunjungan wisatawan).
"Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Bali akan meningkat pada triwulan II 2026 seiring meningkatnya kinerja pariwisata yang memasuki pola high season bersumber dari wisatawan mancanegara (utamanya India) dan wisatawan nusantara (liburan sekolah), meningkatnya kinerja pertanian seiring panen raya padi dan hortikultura, kuatnya konstruksi proyek terutama terkait pariwisata dan proyek strategis pemerintah, dan meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring dengan HBKN Galungan-Kuningan," kata Achris.
Melalui penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi, dan stakeholders terkait, Bank Indonesia berkomitmen mendukung berbagai inovasi serta kebijakan strategis daerah.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.