Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penghimpunan Dana Perbankan di Bali Lebih Rendah dari Penyaluran Kredit

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mengalami kontraksi sebesar 4,10 persen secara tahunan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  07:51 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, DENPASAR — Kondisi terkini perbankan di Bali ditandai dengan terkontraksinya pertumbuhan likuiditas dan perlambatan penyaluran kredit. Bahkan, outstanding dana pihak ketiga tercatat lebih rendah dari penyaluran kredit.

Berdasarkan data Bank Indonesia, hingga Oktober 2020, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mengalami kontraksi sebesar 4,10 persen secara tahunan. Kinerja kredit juga tercatat melambat dengan pertumbuhan hanya sebesar 1,40 persen secara tahunan pada Oktober 2020.

Outstanding dana pihak ketiga per Oktober 2020 adalah senilai Rp98,4 triliun dengan nilai penyaluran kredit pada periode yang sama adalah senilai Rp103,88 triliun.

Pada DPK, kontraksi terjadi pada rekening tabungan dan giro yang disebabkan oleh penurunan pendapatan masyarakat serta penurunan transkasi perusahaan. Kondisi ini mencerminkan betapa sulitnya dunia usaha Bali menghadapi pandemi Covid-19.

Sebaliknya, pada kredit, perlambatan terjadi terutama didorong oleh menurunkan permintaan kredit modal kerja yang berkaitan dengan terhentinya kegiatan lapangan usaha, terutaam akomodasi makan minum.

Meskipun demikian, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) masih dalam ambang batas terkendali pada level 2,64 persen. NPL terhitung terjaga berkat program restrukturisasi kredit.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan penurunan tersebut tidak serta merta membuat fungsi intermediasi perbankan di Bali mengalami masalah. Kantor-kantor perwakilan bank di Bali yang kekurangan likuiditas pun dapat mengajukan tambahan dana ke kantor pusat jika seandainya terjadi lonjakan permintaan kredit.

Hanya saja, di tengah pandemi, demand kredit sudah dipastikan tidak akan tinggi. Apalagi Bali, yang sebanyak 54% sektor usahanya bergerak di bidang pariwisata, membuat demand kredit masih akan rendah.

"Usahanya belum balik, debitur mau pinjam buat apa, dan sekarang masih bisa hidup. Bank reserve dan nasabah mau ambil kredit buat apa, dua-duanya menunggu kapan perlu uang," katanya, Kamis (4/12/2020).

Trisno pun menilai penurunan DPK tersebut tidak hanya terjadi karena penarikan tabungan dan giro. Melainkan, juga terjadi perpindahan dana tabungan masyarkat ke deposito.

Penhimpunan DPK pun masih berpotensi untuk meningkat seiring dengan income yang berasal dari aparatur sipil negara (ASN) maupun profesi yang memiliki pendapatan tetap.

Begitu juga dengan kredit yang diproyeksi akan tetap bertumbuh hingga akhir tahun nanti.

"Kalau kredit, kita kan sekarang tumbuh 1,42 persen [Oktober 2020], antara 2% sampai akhir tahun nanti tumbuhnya, Bali agak berat, bisnis belum balik-balik, DPK possibility mungkin 4,3 persen sampai 5 persen-an," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali perbankan
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top