Bali Perkuat Sistem Informasi Peringatan Dini Tsunami

Provinsi Bali tahun ini sudah mendirikan dan shelter seismik dan sedang disiapkan untuk instalasi dua seismograf guna memperkuat jaringan pengaman sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami (InaTEWS).
Busrah Hisam Ardans
Busrah Hisam Ardans - Bisnis.com 17 November 2019  |  01:36 WIB
Bali Perkuat Sistem Informasi Peringatan Dini Tsunami
Pemuka agama Hindu memantau kerusakan pada bagian candi yang runtuh akibat gempa di Pura Lokanatha, Denpasar, Bali, Selasa (16/7/2019).. - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR – Provinsi Bali tahun ini sudah mendirikan dan shelter seismik dan sedang disiapkan untuk instalasi dua seismograf guna memperkuat jaringan pengaman sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami (InaTEWS).

Dua shelter tersebut berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

"Shelter ini dibangun sebagai bentuk dukungan BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] terhadap pertumbuhan pariwisata Bali yang terus meningkat," ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat melakukan kunjungan kerja ke Gubernur Bali I Wayan Koster pada Sabtu (16/11/2019).

Dalam rangka memperkuat sistem peringatan dini gempa dan tsunami, BMKG sedang dalam proses merapatkan jaringan sensor-sensor gempa.

Dia mengutarakan 176 sensor telah dioperasikan dan akan diperbanyak menjadi 585 sensor di seluruh Wilayah Indonesia pada 2020," lanjut Dwikorita.

Dalam kunjungan tersebut, Dwikorita juga menginformasikan bahwa BMKG Bali sebagai back up nasional InaTEWS serta menyampaikan program-program yang sudah berjalan dan akan dilanjutkan di Provinsi Bali di antaranya Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang Nelayan (SLN), dan Sekolah Lapang Geofisika (SLG).

Dwikorita juga menyampaikan bahwa Bali menjadi salah satu prioritas penguatan, karena merupakan destinasi wisata internasional sehingga perlu memberikan rasa aman dan nyaman terhadap wisatawan.

Dari segi sarana dan prasarana, Bali memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Hal ini menjadi pertimbangan untuk menjadikan Bali sebagai back-up Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) selain Jakarta.

"Untuk itu, di Bali akan dibangun sistem yang sama dengan InaTEWS Jakarta. Sistem yang dibangun antara lain sistem pengolahan (SeisComP3) dengan fitur-fitur terbaru serta Tsunami Observation and Simulation Terminal (TOAST) yang dilengkapi dengan 18.000 skenario di seluruh Indonesia," ucapnya.

Untuk 2020 akan dibangun gedung khusus sebagai gedung operasional InaTEWS Bali. Langkah itu dimaksudkan ketika Jakarta InaTEWS Jakarta bermasalah, Bali sudah benar-benar menjadi full back-up-nya.

Gubernur Bali Wayan Koster memberikan respons positif terhadap program-program BMKG yang mendukung Bali dari bencana, seperti cuaca ekstrem, gempa, dan tsunami.

Mengenai sekolah lapang yang diselenggarakan BMKG, Pemprov Bali akan menindaklanjuti dengan melaksanakan forum group discussion (FGD) antara BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kelautan, dan Dinas Pertanian seluruh kabupaten/kota se-Bali.

Sebelumnya, Dwikorita juga menyampaikan laporan gempa yang baru terjadi di Seririt, Kabupaten Buleleng, berkekuatan 5,1 skala Richter, yang cukup membuat warga panik sehingga menimbulkan beredarnya informasi hoaks tsunami.

Pertemuan ditutup dengan pemberian cendera mata dari Kepala BMKG kepada Gubernur Bali berupa buku Gejer Bali, laporan Gempa Buleleng, poster Gempabumi dan Tsunami, buletin ICIG (Informasi Cuaca, Iklim dan Gempabumi), dan buku data klimatologi Bali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, gempa

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top