Pemprov Sulut Matangkan Rencana Ekspor ke Filipina

Pada awal pekan ini, melalui media sosialnya Gubernur Sulawesi Utara (Sulu) Olly Dondokambey menyampaikan, kapal RoRo dari Davao akan membawa buah-buahan dari Davao dan tiba di Pelabuhan Bitung pada 17 Juni. Kapal itu akan kembali ke Davao dengan membawa komoditas kelapa butir dan Jagung.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  04:16 WIB
Pemprov Sulut Matangkan Rencana Ekspor ke Filipina
Pekerja mengemas jagung impor - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, MANADO—Rencana ekspor Sulawesi Utara ke Filipina menggunakan kapal RoRo melalui jalur dagang Davao-Bitung-Ho Chi Min City  masih terus dimatangkan di tengah tingginya pro dan kontra terhadap rencana ini.

Pada awal pekan ini, melalui media sosialnya Gubernur Sulawesi Utara (Sulu) Olly Dondokambey menyampaikan, kapal RoRo dari Davao akan membawa buah-buahan dari Davao dan tiba di Pelabuhan Bitung pada 17 Juni. Kapal itu akan kembali ke Davao dengan membawa komoditas kelapa butir dan Jagung.

Namun demikian, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag Sulut) Darwin Muksin mengatakan bahwa kapal itu baru akan tiba di Bitung pada 2 Juli, lebih lama dari rencana semula.

“Rencananya jadi tanggal 2 Juli, ada perubahan. Tadinya tanggal 17 Juni,” katanya kepada Bisnis, Rabu (12/6/2019).

Dia menambahkan, Disperindag Sulut belum dapat memastikan jumlah komoditas yang akan diekspor. Darwin menuturkan, pihaknya akan masih akan mematangkan rencana itu bersama pelaku usaha dan lembaga terkait.

“Terkait produk atau komoditas untuk ekspornya kami baru akan mau membahasnya dalam rapat besok, Rabu [12/6/2019], untuk membahas kesiapan para pelaku usaha di kelapa dan jagung. Kami akan bahas bersama instansi terkait, Kadin, Apindo, eksportir, Bea Cukai Bitung, KSOP, dan Pelindo,” jelasnya.

Darwin juga mengatakan, tidak ada kendala aturan yang akan menghambat rencana ekspor kelapa butir. Namun, hal itu masih akan dikaji lebih jauh karena dikhawatirkan berdampak negatif kepada industri pengolahan kelapa Sulut.

“Kalau untuk ekspor kelapa butir mungkin tidak ada hambatan, untuk kelapa bulat itu tidak ada larangan saat ini. Akan tetapi, untuk menjaga industri kita, kalau bisa janganlah diekspor masih dalam bentuk kelapa butir,” tuturnya.

Olly Dondokambey juga pernah mengatakan bahwa ekspor kelapa butir malah akan membantu para petani lokal. Pasalnya, tingginya kebutuhan bahan baku kelapa di Filipina membuat para mereka berani membayar lebih mahal daripada harga pasaran kelapa di Sulut.

Namun demikian, Pengamat Ekonomi Sulawesi Utara Noldy Tureah menyayangkan rencana ekspor kelapa butir tersebut. Dia berpendapat, ekspor bahan mentah seperti itu tidak akan memberikan nilai tambah kepada perekonomian Bumi Nyiur Melambai.

“Seharusnya, yang diharapkan untuk mengisi kapal RoRo tersebut adalah produk olahan dari Sulut yang siap dikonsumsi oleh konsumen di negara tujuan ekspor. Jadi kurang bermanfaat adanya kapal tersebut kalau hanya diisi dengan bahan baku, idealnya diisi barang jadi yang diproses di Sulut,” katanya kepada Bisnis, Rabu (12/6/2019).

Tak hanya kelapa, dia juga mengatakan bahwa rencana pengiriman jagung melalui kapal RoRo bukan ide yang bagus. Pasalnya, langkah ini diproyeksikan hanya akan menambah permintaan pasar lokal terhadap jagung pipil. Menurutnya, mendorong industri pengolahan lokal akan lebih berdampak positif.

“Di Sulut belum ada pabrik yang memproduksi makanan ternak dengan bahan baku jagung, tapi di Filipina jagung selain digunakan bahan baku makanan ternak, digunakan juga untuk produksi bir minuman beralkohol,” jelasnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sulut Ivanry Matu justru mendukung rencana ekspor itu. Menurutnya, langkah ekspor kelapa butir memberi dampak instan terhadap kesejahteraan petani.

“KADIN Sulut mendukung penuh jika ada pelaku ekspor yang bisa ekspor kelapa butir, dari sisi ekonomi itu kan bagus dalam rangka meningkatkan pendapatan petani karna pasti efeknya kan domino, kami support saja selama itu sesuai aturan main dan harganya masuk,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (12/6/2019).

Selain itu, menurutnya ini industri pengolahan kelapa di Sulut belum begitu berkembang dan masih sedikit. Dia mengatakan bahwa ekspor kelapa butir ke Filipina tidak akan memberi dampak signifikan terhadap industri pengolahan kelapa.

“Dampak terhadap industri lokal mungkin tidak terlalu signifikan ya karna industri kelapa di sulut sedikit sementra bahan baku kita melimpah, di sisi lain ekspor butir kelapa akan membuat pasar jadi lebih kompetitif,” jelasnya.

Namun, menurutnya dalam jangka panjang tetap dibutuhkan hilirisasi industri pengolahan kelapa terpadu di Sulawesi Utara. Hal itu, lanjutnya, akan memberi dampak yang lebih berkelanjutan seiring dengan terciptanya lapangan kerja dan berkembangnya industri.

Sementara itu, dia mengatakan bahwa permintaan Jagung dari Filipina juga cukup besar. Permintaan jagung itu, lanjutnya, datang dari industri pengolahan bir pucat atau pale pilsen yang diproduksi San Miguel Brewery.

“Kebetulan saya juga akan kirim jagung ke Filipina karena ada permintaan dari sana cukup besar, sekitar 15.000 ton, khususnya dari San Miguel. Rencana jadi untuk pengiriman perdana, ada kelapa butir, kopra, dan jagung,” tuturnya.

Kapal Super Shuttle RoRo 12 dari Filipina pernah berlabuh di Bitung pada 2017. Namun, pelayaran yang itu urung terulang kembali karena komoditas yang dapat dibawa dari Sulut tidak dapat memenuhi kapasitas kapal itu.

Dia mengharapkan, ke depan untuk memenuhi kapal tersebut saat tiba di Bitung, Pemprov Sulut dapat bersinergi dengan provinsi lain di Indonesia Timur. Menurutnya, rute pelayaran ini sulit bertahan apabila ekspor dari Bitung hanya mengandalkan komoditas Sulut.

“Peran Bitung sebagai pelabuhan internasional ini harus dimaksimalkan agar ekspor kita cukup, kalau hanya mengandalkan dari Bitung itu tidak cukup. Harapan kami, dari Papua, Maluku, itu masuk Bitung, karena rutenya kan Davao-Bitung, ke Kota Kinabalu, lalu Ho Chi Min City, lalu ke Davao,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sulawesi utara, jagung

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top