Melihat Kesiapan Operasional Yogyakarta Internasional Airport

Menjelang pengoperasian terbatas Yogyakarta International Airport (YIA) pada 29 April tahun ini, beberapa stasiun yang telah ditunjuk sebagai lokasi pemberhentian kereta api bandara telah menyiapkan diri.
Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara - Bisnis.com 24 April 2019  |  11:56 WIB
Melihat Kesiapan Operasional Yogyakarta Internasional Airport
Proses pengerjaan Bandara New Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, DIY, Rabu (24/4 - 2019).

Bisnis.com, KULON PROGO – Menjelang pengoperasian terbatas Yogyakarta International Airport (YIA) pada 29 April tahun ini, beberapa stasiun yang telah ditunjuk sebagai lokasi pemberhentian kereta api bandara telah menyiapkan diri.

Stasiun tersebut yakni Stasiun Tugu, Yogyakarta, Stasiun Wates, Kulonprogo dan Stasiun Wojo, Purworejo.

"Intinya kami sudah siap. Ada tiga stasiun yaitu Tugu, Wates, Wojo. Kita sudah siapkan fasilitasnya, sudah ada ruang tunggu dengan kapasitas 100 orang, ke depan akan dibangun fasilitas penunjang lainnya," kata Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta, Eko Budiyanto, kepada awak media Selasa (23/4/2019).

Di Stasiun Wates, fasilitas ruang tunggu calon penumpang kereta bandara memanfaatkan bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai gudang. Lokasinya persis di sebelah barat stasiun. Kini gudang tersebut telah direnovasi dan dipoles sedemikian rupa menyesuaikan kebutuhan kereta bandara. Saat YIA dioperasikan pada akhir April, bangunan itu dipastikan bisa difungsikan.

"Sekarang [Fasilitas di tigas stasiun] sudah 99%, artinya nanti telah siap digunakan," ujar Eko.

Di samping mempersiapkan stasiun, Daop 6 Yogyakarta juga telah menjadwal keberangkatan kereta api sesuai dengan jadwal keberangkatan pesawat di YIA. Jadwal ini memungkinkan kereta sudah sampai di stasiun tujuan maksimal dua hingga tiga jam sebelum pesawat lepas landas.

"Kalau dari Stasiun Tugu sampai Wojo kemungkinan waktu tempuh kereta paling lama 45 menit, untuk jenis keretanya belum bisa kami sampaikan, tapi yang pasti ada jadwal khusus non kereta reguler," kata Eko.

Kereta api ini akan mengikuti simulasi moda transportasi penunjang YIA yang dilaksanakan pada Rabu (24/4) dan Jumat (26/4). Selain kereta api, sejumlah angkutan, seperti bus damri, shuttle bus, taksi hingga kendaraan pribadi akan dilibatkan dalam uji coba tersebut.

Persiapan

Sebelum pelaksanaan simulasi, Angkasa Pura 1 (AP1) mengadakan tabel top exercise operation di kantor PP KSO, Temon, Selasa (23/4). Dalam kegiatan ini pihak terkait meliputi CIQ, BMKG, Airnav, Perusahaan Angkutan Damri, Shuttleku, Taxi, Tenant serta sejumlah maskapai penerbangan termasuk Garuda Indonesia turut hadir.

Vice President (VP) Operational Airport PT Angkasa Pura I, Cecep Marga Sanjaya mengatakan tujuan tabel top exercise operation ini untuk mengecek kesiapan simulasi pengoperasian YIA. Lewat uji coba itu, pihaknya ingin agar penyelenggaraan operasional bandara memahami arus kendaraan dan calon penumpang pengguna jasa pesawat di YIA.

"Yang kedua kami ingin melihat apakah ada permasalahan, untuk kemudian akan dievaluasi," ujarnya.

Dia memaparkan uji coba moda transportasi ini akan diawali dengan keberangkatan penumpang menggunakan bus, taksi dan kendaraan pribadi dari sejumlah lokasi di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah meliputi Kebumen dan Magelang.

Kendaraan akan mulai berangkat sekitar pukul 05.00 WIB. Diharapkan sebelum pukul 9.30 WIB penumpang sudah sampai YIA. Hal ini menyesuaikan jadwal keberangkatan pesawat di YIA yang mulai lepas landas pukul 10.15 WIB. "Jika lewat dari itu akan kami evaluasi, apa kendalanya," kata Cecep.

Sementara untuk uji coba kereta api akan dimulai pukul 05.00 WIB. Kereta berangkat dari Stasiun Tugu, Yogyakarta dan Stasiun Maguwo, Sleman untuk kemudian berhenti di Stasiun Wates, Kulonprogo atau Stasiun Wojo, Purworejo. Sesampainya di stasiun tujuan, penumpang berpindah ke shuttle bus untuk menuju bandara.

"Personel yang dilibatkan sekitar 300 orang, nanti saat simulasi pada 26 April, Pesawat Garuda dari Jakarta akan mendarat di bandara," ujarnya.

Cecep mengatakan saat YIA beroperasi untuk penerbangan internasional, jumlah penumpang berkisar 500 sampai 600 orang per hari. Jumlah ini sama dengan rata-rata penumpang penerbangan internasional di Bandara Adisucipto, Yogyakarta.

Pimpinan Proyek, YIA, AP 1, Taochid Purnama Hadi mengatakan untuk minimum operasi di akhir April, sisi Airside telah siap 100%. Nantinya ruang gerak pekerja di area Airside akan dibatasi. Jam kerja yang sebelumnya dimulai sejak pagi akan diubah menjadi malam agar tidak menggangu kenyamanan penumpang.

Pembersihan

Mendekati waktu pengoperasian minimum, Sertifikat Bandar Udara (SBU) YIA telah turun pada Selasa (23/4). Dengan ini, bandara tersebut sudah dianggap legal dan bisa beroperasi. Maskapai penerbangan yang akan menggunakan YIA juga terjamin keselamatan dan keamanannya.

"Dengan adanya SBU aspek legalitas sudaj ada, siapapun yang mendarat di sini telah dijamin keselamatannya," kata Cecep.

Namun demikian SBU itu hanya bersifat temporer, sebab pembangunan YIA belum rampung seluruhnya. AP 1 akan kembali mengajukan SBU saat bandara mendekati pengoperasian secara penuh di akhir tahun ini.

"Kemarin kami memang baru ajukan untuk SBU sementara mengingat bandara belum jadi seluruhnya, nanti akan kami ajukan lagi ketika mulai full operation, mudah-mudahan di akhir tahun ini," ujar Cecep.

Terkait keberadaan pasir dan debu yang mendapat sorotan Indonesia National Air Carriers Association (INACA) saat melakukan kegiatan Hazard Identification Risk Assessment (HIRA) atau penilaian potensi gangguan dan resiko di YIA, Senin (22/4) kemarin.

Cecep memastikan hal itu akan diantisipasi pihaknya dengan cara menutup lokasi-lokasi yang berpotensi menimbulkan kedua material tersebut serta memindahkan ke tempat terbuka. "Artinya potensi gangguan kami minimalisir," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bandara kulonprogo

Sumber : JIBI/Harian Jogja
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top