Batam Gaet Perusahaan asal China

Batam terus berupaya menggaet sejumlah perusahaan yang memiliki basis produksi di China untuk masuk ke Batam. Target utama adalah perusahaan manufaktur yang produknya dikenakan tarif tinggi akibat perang dagang saat masuk ke pasar Amerika Serikat.
Sarma Haratua | 08 Desember 2018 12:53 WIB
Petugas melintas di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (9/4). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, BATAM – Batam terus berupaya menggaet sejumlah perusahaan yang memiliki basis produksi di China untuk masuk ke Batam. Target utama adalah perusahaan manufaktur yang produknya dikenakan tarif tinggi akibat perang dagang saat masuk ke pasar Amerika Serikat.

Salah satu yang ditawarkan Batam kepada perusahaan-perusahaan tersebut adalah adanya tarif preferensi 0 persen dalam komitmen Free Trade Agreement antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sehingga dengan konten lokal 35 persen, produk yang dirakit di Batam bisa masuk ke pasar Amerika tanpa dikenai pajak.

“Sejauh ini sudah ada beberapa perusahaan dari China yang mau masuk ke Batam untuk melihat peluang merelokasi pabriknya. Kami sendiri akan terus berkoordinasi agar peluang ini kita manfaatkan,” ujar Wakil Ketua Himpunan Kawasan Industri Kepri Tjaw Hoeing.

Salah satu yang telah berkomitmen merelokasi sebagian produksinya dari China ke Batam adalah Pegatron Corporation. PT Satu Nusa Persada (PTSN)memperoleh kontrak penting dengan Pegatron Corporation.

Menurut catatan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan perakitan elektronik terbesar kedua di dunia ini memindahkan sebagian produksinya karena beberapa poduk yang dibuat di Tiongkok akan dikenakan pajak tambahan apabila diekspor ke Amerika Serikat.

Pegatron Corporation akan melakukan kerjasama dengan PTSN untuk merakit berbagai produk elektronik yang akan diekspor ke Amerika Serikat. PTSN berpotensi memproduksi berbagai produk dikemudian hari sesuai dengan permintaan pasar di Amerika Serikat.

Realisasi kerjasama Pegatron dan PTSN akan direalisasikan paling lama bulan mendatang, dengan produksi penuh diharapkan pada pertengahan 2019. Karena akan butuh waktu bagi Pegatron untuk memindahkan, memasang, dan mengesahkan peralatan sebelum pabrik beroperasi penuh.

Pegatron lebih memilih bekerjasama dengan perusahaan lokal dan menyewa pabrik ketimbang  membangun fasilitas baru. Tujuannyauntuk memastikan produksi bisa dilakukan sesegera mungkin. Rencananya mempekerjakan 8.000 hingga 10.000 pekerja.

Menurut Tjaw, masih banyak potensi investasi yang bisa diraih Batam akibat hengkangnya sejumlah perusahan dari China. Pihaknya sendiri akan segera berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan di Batam, terutama yang memiliki pabrik perakitan di China.

HKI akan mendorong perusahan yang memilik pabrik perakitan di China untuk masuk ke Batam. Testimoni mengenai kemudahan berinvestasi yang selama ini dirasakan diharapkan mampu meyakinkan mereka untuk relokasi ke Batam.

Menurut Tjaw, industri komponen telepon pintar menjadi salah satu target yang menarik. Batam tengah mencoba menciptakan ekosistem industri telepon pintar dengan menggaet industri komponen, sehingga tercipta rantai pasok yang utuh.

Saat ini regulasi untuk mendukung misi tersebut tengah didiskusikan di pemerintah pusat. BP Batam bersama HKI tengah mendorong agar regulasi terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dirubah dari hanya 30 persen dinaikan menjadi 40 persen.

“Dengan 30 persen itu, komponen masih bisa disuplai oleh perusahaan yang ada di negara Asean. Tapi jika perlahan-lahan dinaikan hingga 40 persen, mau tak mau perusahaan komponennya harus masuk ke Batam. Ini perlu gebrakan di tingkat nasional,” jelasnya.

Ketua Apindo Kota Batam Rafki Rasyid mengatakan, masuknya Pegatron akan memperbesar keyakinan investor lain untuk masuk ke Batam sehingga mempermudah promosi yang dilakukan oleh BP Batam nantinya.

Selama perang dagang terjadi, belum banyak investasi yang bisa digaet ke Batam. Justru negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang malah mengambil manfaat dari trade war yang terjadi.

Langkah Pegatron memilih Batam sebagai lokasi relokasi pabrik dari China bisa menjadi acuan bagi perusahaan lain. Selain sangat dekat dengan Singapura, fasilitas dan kemudahan investasi di Batam juga sudah semakin baik.

“Masuknya Pegatron ke Batam harus bisa dijadikan momentum untuk menarik lebih banyak investasi dari China ke Batam,” jelasnya.

Dengan masuknya Pegatron ini ke Batam akan menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang cukup banyak mencapai 10.000 orang. Tentunya investasi ini akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Batam.

“Kita berharap investasi Pegatron bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Batam ke target 7% sebagaimana yang kita harapkan bersama,” paparnya

Tag : batam
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top