PERTAMBANGAN MINERAL & BATU BARA : Hak Istimewa Akan Masuk dalam UU Minerba

JAKARTA — Pemberian hak istimewa berupa hak menyamakan tawaran atau right to match kepada perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek pertambangan di daerah baru bakal ditentukan oleh revisi UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Lucky L. Leatemia | 08 Juni 2018 02:00 WIB

JAKARTA — Pemberian hak istimewa berupa hak menyamakan tawaran atau right to match kepada perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek pertambangan di daerah baru bakal ditentukan oleh revisi UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan bahwa sejauh ini belum ada aturan soal hak istimewa di sektor pertambangan. Menurutnya, hal tersebut harus diatur dalam peraturan yang tinggi.

"Harus diatur di regulasi yang tinggi karena itu memberikan pola baru. Itu kan akhirnya seperti memberi penugasan untuk melakukan eksplorasi. Kalau dari badan Geologi kan dilelang," ujarnya, Kamis (7/6).

Dia menilai bahwa keistimewaan bagi inisiator berupa keutamaan dalam mengelola wilayah baru bisa mendorong perusahaan-perusahaan melakukan penelitian. Menurutnya, hal tersebut memang bisa meningkatkan minat dalam eksplorasi pertambangan. "Tapi memang belum pasti karena Undang-Undang Minerba yang baru masih belum," tuturnya.

Sebelumnya, PT Antam Tbk. menyatakan perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek pertambangan di daerah baru (greenfields) perlu mendapatkan keistimewaan dalam hak pengelolaan wilayah tersebut.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan bahwa saat ini belum ada aturan tentang right to match atas pengelolaan wilayah pertambangan oleh perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek di sana. Artinya, perusahaan yang menemukan prospek tersebut tetap tidak bisa diutamakan dan harus mengikuti proses lelang seperti biasa.

"Kalau sekarang kita menemukan prospek tetap harus ikut lelang. Diharapkan nanti ke depannya siapa pun yang menginisiasi [penemuan prospek] bisa dapat right to match," ujarnya.

Antam telah menjalin aliansi strategis dengan Newcrest Mining Limited, perusahaan tambang asal Australia, untuk mencari prospek-prospek mineral di Indonesia.

Dia menyatakan bahwa beberapa daerah yang telah mendapat perhatian lebih adalah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Arie mengaku sudah menemukan prospek yang cukup baik di daerah-daerah tersebut.

"Kembali lagi, permasalahannya prospek-prospek itu di luar wilayah pertambangan dan tidak IUP-nya sekarang. Kalau mau masuk harus nunggu dilelang," tuturnya.

Terkait hal tersebut, pemerintah pun tidak lama lagi melakukan lelang dan penawaran untuk 16 wilayah pertambangan yang terdiri dari 10 wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dan enam wilayah izin pertambangan khusus (WIUPK) dengan total nilai kompensasi data informasi mencapai Rp4,095 triliun.

Kegiatan lelang akan terus dilakukan baik untuk wilayah-wilayah baru maupun bekas pertambangan. (Lucky L. Leatemia)

Tag : pertambangan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top