Ceruk Hunian Vertikal yang Mulai Menggeliat

Kendati rumah tapak atau landed house masih menjadi prioritas dalam pembelian hunian di Sulawesi Selatan, penetrasi hunian vertikal terus dilanjutkan oleh pengembang.
Amri Nur Rahmat | 23 Maret 2018 02:00 WIB
Ilustrasi pembangunan apartemen - Antara/Audy Alwi

Kendati rumah tapak atau landed house masih menjadi prioritas dalam pembelian hunian di Sulawesi Selatan, penetrasi hunian vertikal terus dilanjutkan oleh pengembang.

Namun, pengembang yang berani menggarap hunian vertikal itu kebanyakan masih terbatas pada pengembang berskala nasional yang memiliki modal relatif besar. Kondisi itu juga dipengaruhi oleh pertimbangan pada berbagai aspek terutama dari sisi kalkulasi bisnis mengingat pasar hunian vertikal relatif masih sangat sulit.

Wakil Ketua REI Raymond Arfandi mengatakan bahwa pengembang lokal terutama di Makassar masih berkonsentrasi pada rumah tapak mengikuti permintaan pasar. Sementara itu, hunian vertikal seperti apartemen belum bisa menciptakan pasarnya sendiri.

“Masyarakat masih cenderung ke [pilihan] landed house dan pengembang tentunya menyesuaikan pasar saja. Namun untuk pengembang besar, sudah masuk ke segmen ini, di Makassar sudah ada beberapa,” katanya kepada Bisnis.

Menurutnya, hunian vertikal diakui memang sudah layak dikembangkan di Makassar karena kian menipisnya lahan yang memungkinkan dalam pengembangan rumah tapak.

Namun bagi pengembang lokal, lanjutnya, kondisi tersebut membuat arah pengembangan ke wilayah penyangga Makassar yang relatif masih memiliki lahan yang cukup.

Sejauh ini, sejumlah pengembang nasional tengah membangun hunian vertikal yang berklasifikasi high rise seperti Ciputra Group dengan produk Vida View Makassar serta Lippo Group melalui proyek St. Moritz Makassar.

Kedua proyek hunian vertikal itu telah memasuki tahapan konstruksi fisik, yang dari sisi letak relatif berdekatan dan berada di Kawasan Bisnis Panakukang Makassar.

Selain itu, pengembang pelat merah yakni Wika Realty ikut meramaikan bisnis hunian vertikal di Makassar melalui proyek Tamansari Skylounge Apartment yang pengerjaan fisiknya telah dimulai pada 10 Maret 2018.

Menurut Raymond, yang juga pernah menjabat sebagai ketua REI Sulsel, pengembang lokal hanya menunggu momentum yang pas untuk ikut meramaikan bisnis hunian vertikal.

“Ketika pasarnya sudah ada, sudah terbentuk, pasti pengembang lokal yang memiliki kapasitas tentu akan melirik segmen ini. Skemanya bisa saja kerja sama dengan pengembang nasional atau lainnya. Intinya, menunggu momentum juga,” ujarnya.

Menurut catatan Bisnis, kinerja penjualan hunian vertikal yang terbangun di Makassar cendrung masih tertatih. Apartemen Vida View misalnya, penjualan masih berada pada kisaran 47% dari total unit yang disiapkan.

Padahal, hunian vertikal itu telah diluncurkan sejak 2012 dengan harga perdana saat itu mulai Rp275 juta per unit. Adapun pada saat ini, harga unit Vida View telah melonjak signifikan mengikuti laju perekonomian Makassar, yang dibanderol mulai dari Rp440 juta hingga Rp1,67 miliar per unit.

Selain letaknya strategis yakni di Kawasan Panakukang—yang disiapkan menjadi CBD (central business district) pertama di Makassar—Vida View juga dilengkapi sejumlah fasilitas bintang 5, antara lain sky garden, kolam renang, gym & fitness room, jogging track, futsal dan kapasitas parkir hingga 1.000 lot kendaraan.

Selain itu, sebagian besar pembeli apartemen Vida View masih didominasi dari luar Makassar lantaran kecenderungan konsumen lokal yang masih berorientasi pada hunian tapak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti, rei, sulsel, hunian vertikal

Sumber : Bisnis Indonesia
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top