KOMUNIKASI POLITIK : Agenda #IndonesiaBicaraBaik

Banyak berita baik tentang prestasi Indonesia tahun ini! Laporan Bank Dunia Doing Business 2018: Reforming to Create Jobs mencatat peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik ke posisi 72 dari 190 negara dari sebelumnya di peringkat 91.
KOMUNIKASI POLITIK : Agenda #IndonesiaBicaraBaik
Presiden Jokowi menikmati permainan musik dari musisi jalanan di Jalan Asia Afrika Bandung, Selasa (17/10/2017) - Dok. Biro Pers, Media dan Informasi

Banyak berita baik tentang prestasi Indonesia tahun ini! Laporan Bank Dunia Doing Business 2018: Reforming to Create Jobs mencatat peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik ke posisi 72 dari 190 negara dari sebelumnya di peringkat 91.

Bank Dunia mengakui Indonesia berhasil mempercepat laju reformasi dalam beberapa tahun terakhir.

Kabar positif lainnya, Gallup World Poll Survey menempatkan pemerintah Indonesia pada posisi nomor satu untuk tingkat kepercayaan publik. Persentase kepercayaan publik Indonesia sangat tinggi, yaitu 80%, diikuti oleh Jerman dengan angka 55%, Inggris 31%, bahkan Amerika Serikat sendiri hanya 30%.

Gallup adalah lembaga dunia yang kredibel. Hasil survei ini adalah pengakuan dunia internasional bagi Indonesia. Sebuah kabar gembira lain setelah pengakuan investment grade dari Standard & Poor’s.

Saya melihat dari perspektif kehumasan bahwa selayaknya momentum kepercayaan yang tinggi ini digunakan sebaik-baiknya. Di satu sisi, dunia mengakui bahwa Indonesia menyimpan banyak keunggulan kompetitif sebagai negara dan bangsa. Di sisi lain, seharusnya semua capaian ini tidak hanya dikomunikasikan semata tetapi harus di Narasikan dan di Agendakan dengan baik sehingga publik paham arti keunggulan dan makna dari ini semua. Komunikasi publik yang terjadi selama in hanya bersifat one- way dan top-down saja. Tidak ada engagement dan interaktif. Sedikit pula ruang bagi publik untuk berpartisipasi. Konsekuensinya, pesan positif dan prestasi capaian tidak sampai, bahkan bisa jadi diacuhkan oleh publik. Bahkan ada kecenderungan rasa ketidakpedulian di kalangan tertentu.

Keprihatinan ini disampaikan Presiden Joko Widodo sendiri beberapa waktu lalu dan meminta sejumlah pihak untuk tidak terus mengumbar pesimisme dan sindiran. Harus diakui, masih terasa kendala dalam komunikasi saat ini. Bahkan sebuah analisis media yang dilakukan Kazee Indonesia, terungkap bahwa strategi komunikasi politik kementerian selama ini tidak tepat sasaran dengan agenda Presiden Joko Widodo.

Lalu lintas informasi saat ini sangat deras dan kian mengkhawatirkan. Kita terekspos dengan ratusan ribu konten. Sejak terbangun dari tidur, kita langsung terhubung dengan dunia luar melalui ponsel pintar. Berbagai pesan singkat, testimoni yang di-share oleh sahabat kita di media sosial, tautan link berita yang tidak jelas dari mana asalnya dapat dengan mudah muncul di hadapan kita. Apakah seluruh informasi itu benar adanya? Tidak ada yang tahu. Bahkan, ada tendensi semakin buruk berita itu, semakin mudah kita melakukan share.

Terbongkarnya sindikat Saracen beberapa waktu lalu. Kelompok penyebar ujaran kebencian dan isu SARA ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang dengan agenda menimbulkan kesan negatif, memperkeruh dan memecah belah persatuan Indonesia. Meski sindikat Saracen ini akhirnya terbongkar, tetapi dampak negatif yang dihasilkan oleh kelompok ini telah memengaruhi rakyat Indonesia, entah sahabat, saudara, bahkan kita sendiri.

Dalam konteks komunikasi publik, dibutuhkan berimbangnya pemberitaan yang beredar di media digital tentang capaian-capaian positif Indonesia, baik dalam hal sosial, budaya, ekonomi dan politik. Alangkah sayangnya, jika kabar pencapaian positif ini tidak hanya tersebar tapi harus dimaknai ke sesama kita, bahkan ke dunia internasional.

Sayangnya, yang menjadi fenomena saat ini, berita buruk berhasil “mengubur” berita baik. Kabar negatif merajalela di mana-mana tidak sebanding dengan berita positif.

Sebuah pemikiran lahir bahwa inilah saatnya rakyat Indonesia yang berjumlah 255 juta orang berperan fungsi sebagai Humas bagi Indonesia. Sudah waktunya untuk bernarasi “#IndonesiaBicaraBaik”. Mengapa #IndonesiaBicaraBaik? Mengapa memakai hashtag? Karena kita memasuki era zaman NOW, di mana semua sudah berubah dan tanda hashtag (pagar) menunjukkan bahwa zaman komunikasi sudah berevolusi dan kita perlu beradapatasi.

Semangat #IndonesiaBicaraBaik ini sesuai pesan Presiden Joko Widodo. Kondisi Indonesia saat ini sudah jauh berubah dibandingkan lima atau sepuluh tahun lalu. Pembangunan infrastruktur terjadi di mana-mana dan tidak hanya berpusat di Pulau Jawa saja.

Tentunya momen baik ini akan terwujud jika segenap bangsa Indonesia, seluruh ekosistem negeri ini, mulai dari jajaran menteri Kabinet Kerja beserta rakyat bahu membahu untuk mewujudkan pembangunan nasional demi terwujudnya kesejahteraan.

"Ini harus disampaikan. Kenapa? karena banyak yang belum tahu. Kasih tahu ke masyarakat kalau kami [pemerintah] sudah bekerja siang-malam, Sabtu-Minggu untuk menyelesaikan yang dibutuhkan masyarakat," kata Jokowi.

Membangun Reputasi

Melalui ajakan #IndonesiaBicaraBaik, sebagai humas Indonesia, siapa pun mereka, bisa mulai melakukan tiga hal. Pertama, menerapkan komitmen pribadi dengan berperan nyata dalam upaya membangun reputasi Indonesia melalui pembangunan komunikasi yang terbuka. Sebagai Humas kita bisa membangun ruang diskusi dan dialog dengan siapapun, termasuk oponen kita.

Kedua, menjaga perilaku komunikasi. Mulai sebarkan nilai kebaikan melalui media sosial dan mengimplementasi semangat positif dalam kehidupan sehari-hari. Tidak melakukan tindak atau mengeluarkan ucapan yang cenderung merendahkan martabat, klien, pimpinan dan lembaga, maupun mantan klien, mantan pimpinan, dan mantan lembaga. Ini perlu kedewasaan publik.

Ketiga, menjaga integritas komunikasi. Antara lain tidak melibatkan diri dalam tindak memanipulasi integritas media massa sebagai mitra kerja. Juga, tidak menyebarluaskan informasi yang tidak benar atau menyesatkan melalui media, sehingga dapat menodai profesi kehumasan. Think before you share!

Sebagai Humas, kita ingin virus “#IndonesiaBicaraBaik” ini bisa menyebar luas. Sebab, Indonesia butuh Humas! Kita semua adalah Humas Indonesia. Anda dan saya adalah salah satunya. Mari kita mulai! Untuk hari ini, esok dan selamanya….#IndonesiaBicaraBaik!

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
humas

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top