Menjelang malam Natal di Wasior

Selama 4 hari, 22-26 Desember 2010, atas undangan Kementerian Perhubungan, Bisnis Indonesia bersama sejumlah media lainnya dari Jakarta berkesempatan melihat kondisi terakhir kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, pasca bencana banjir bandang 4 Oktober
Tisyrin Naufalty Tsani | 26 Desember 2010 01:26 WIB

Selama 4 hari, 22-26 Desember 2010, atas undangan Kementerian Perhubungan, Bisnis Indonesia bersama sejumlah media lainnya dari Jakarta berkesempatan melihat kondisi terakhir kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, pasca bencana banjir bandang 4 Oktober lalu.  Berikut laporannya.

Sejak hari naas peristiwa banjir bandang pada 4 Oktober 2010, Wasior, Kabupaten Teluk Wondama masih belum pulih. Kota itu memang mulai berbenah, aktivitas sosial sudah menggeliat tetapi pengungsi tetap merasakan perih.Malam itu, Jum'at, 24 Desember 2010, Tiras Moning (36) berusaha menutupi keperihannya pada malam Natal pasca banjir bandang. Di gereja darurat  yang dibangun untuk para pengungsi di Rado, pria beristeri ini tampak pasrah.Tunjangan Hari Raya (THR) yang baru diterimanya sebesar Rp200.000 dari pemerintah sedikit mengobati perih tersebut meskipun uang sebesar itu tidak cukup  untuk membelikan sepasang pakaian untuk istri dan anaknya.Namun, Tiras tetap senang karena masih bisa berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Natal bahkan Tahun Baru meskipun di pengungsian yang penuh sesak. "Ya, sekali ini, kita Natal dalam duka," ucapnya singkat.Tiras adalah cerminan para pengungsi korban banjir bandang Wasior yang jumlahnya tercatat sebanyak 1.166 jiwa.  Tiras dan ribuan pengungsi ini merasakan perih akibat  peristiwa banjir bandang yang telah meluluhlantakkan distrik tersebut.Infrastruktur transportasiSelama hampir tiga bulan sejak bencana terjadi, Tiras dan para pengungsi ingin kembali hidup normal, melakukan interaksi dengan dunia yang lebih luas, tetapi harapan itu sulit segera tercapai.Salah satu penyebabnya adalah miskinnya sarana dan prasarana transportasi. Pasca bencana itu, akses yang menghubungkan satu kawasan pemukiman dengan kawasan pemukiman lainnya nyaris lumpuh, jalan banyak yang rusak yakni sejauh 35 KM, demikian juga dengan jembatan.Sementara itu, satu lokasi yang sudah menjadi terminal angkutan umum darat  dan  biasa digunakan oleh operator angkutan desa untuk menaikkan dan menurunkan penumpang atau barang juga  rusak berat bahkan kini tidak bisa digunakan lagi.Sebelum bencana itu terjadi, pemerintah sudah membangun terminal baru beserta pasarnya untuk menggantikan terminal dan pasar lama, tetapi bangunan tersebut juga hancur. "Angdes sekarang memanfaatkan badan jalan," kata Mulyo, salah seorang warga di Wasior.Mulyo menjelaskan jumlah Andes memang terbatas, tetapi berperan penting karena menghubungkan satu kawasan pemukiman dengan pemukiman lainnya.Angkutan itu menghubungkan sejumlah desa menuju kota seperti rute  Wasior ke Rasei dan Tandia. Pada rute ini, para penumpang  biasanya  membawa kebutuhan bahan pokok dari Wasior.Kemudian rute wasior ke Subeey, daerah pemasok sayuran utama ke Wasior. "Angkutan itu tetap beroperasi melayani meskipun kondisi jalan rusak parah karena banjir. Jembatan kayu juga banyak yang nyaris putus terutama ke pemukiman Subeey yang berjarak 30 KM."Di dalam kota Wasior sendiri, masyarakat tidak memiliki pilihan selain mengandalkan ojek. Sebab, di pusat kota Wasior tidak ada angkutan massal yang melayani rute antarkawasan pemukiman, termasuk dari pengungsian menuju kota."Masyarakat mengandalkan ojek dengan biaya mahal. Sekarang belum ada angkutan umum. Ojek dari Kampung Rado menuju pusat kota mencapai Rp10.000 dengan jarak 7 KM. Harga bensin eceran juga mahal yakni Rp7.500 per liter," tambah Mulyo.Kondisi ini juga dikeluhkan para pengungsi.  Mereka tidak memiliki akses transportasi yang dapat menghubungkan hunian sementara menuju pusat kota seperti yang dialami hunian sementara di Kampung Kabau yang berjarak hanya 10 KM dari pusat kota.Menurut pengakuan para pengungsi, mereka terpaksa mengandalkan ojek untuk melakukan perjalanan menuju kota Wasior, padahal kondisi saku mereka sangat cekak pasca bencana banjir bandang.Meta Mambor, salah seorang pengungsi mengatakan untuk menuju kota Wasior, pada pengungsi harus merogoh koceknya hingga mencapai Rp40.000."Ini mau ke kota sulit. Kita terpaksa naik objek. Sekali jalan Rp20.000. Untuk pulang pergi sudah Rp40.000. Sementara kita tidak punya uang. Buat ambil air juga kita jauh, tidak ada kendaraan," katanya.Tiras Moning, korban banjir bandang yang tinggal di pengungsian Rado mengatakan ojek jadi andalan pengungsi karena dari kawasan tempat dia mengungsi, tidak tersedia alat angkutan. "Ya ojeklah, tidak ada yang lain," katanya.Dari pemukiman Rado yang berjarak sekitar 7 KM dari pusat kota, para pengungsi harus merogoh Rp7.500 untuk sekali jalan, tetapi kadang-kadang bisa mencapai Rp10.000 karena pasokan bahan bakar yang terbatas.Para pengungsi mengharapkan ada angkutan yang disiapkan oleh pemerintah supaya akses dari pengungsian menuju pusat kota lebih mudah sehingga biaya untuk kegiatan transportasi masyarakat tidak semahal dibandingkan naik dengan menggunakan ojek.Kapolres Kabupaten Teluk Wondama Gatot Aris Purbaya mengakui para pengungsi kesulitan transportasi, terutama dari pemukiman pengungsi menuju pusat kota sehingga ojek menjadi satu-satunya pilihan.Menurut dia, biaya ojek terlalu mahal bagi para korban banjir bandang yang sudah kehilangan harta benda. "Untung ada ojek meski mahal. Itu andalan pengungsi bahkan masyarakat Wasior saat ini," katanya.Kapolres yang akrab dipanggil Aris itu mengharapkan agar ada bantuan alat transportasi supaya biaya mobilitas pengungsi dan masyarakat Wasior turun sehingga perekonomian masyarakat segera menggeliat. "Untuk jarak sekitar 5 KM, biaya ojeknya sudah Rp5.000. Mahal," tegasnya.Selain transportasi darat, transportasi laut juga sangat dibutuhkan terutama untuk menghubungkan kota Wasior dengan distrik atau pemukiman lainnya supaya interaksi antarmasyarakat semakin lebih dinamis.Jadi perhatianPlt. Bupati Teluk Wondama  Derek Ampnir mengatakan infrastruktur transportasi merupakan fasilitas publik yang pertama diselamatkan dalam penanganan bencana di Wasior.  "Sekarang bandara sudah  memadai,  pelabuhan laut juga sudah," katanya.Pihaknya mengharapkan landasan pacu  bandara Wasior yang sekarang hanya 600 meter bisa diperpanjang. "Sementara infrastruktur jalan yang rusak mencapai 35 KM. Kini, jalan tersebut sudah dinormalkan setelah bencana."Pihaknya justru mengeluhkan sarana kelistrikan yang masih kurang, alokasi BBM untuk Wasior yang  tidak memadai  karena saat ini  daerah tersebut segera masuk pada tahap rekontruksi yang memerlukan bahan bakar dalam jumlah besar supaya aktivitas rekontruksi berjalan lancar.Kepala Cabang Perum Damri Manokwari, Provinsi Papua Barat Syamsul Gayang mengatakan  Dinas Perhubungan Kabupaten Telok Wondama sudah pernah membicarakan masalah penyediaan alat transportasi massal dengan Perum Damri.Dia menjelaskan sekarang Damri sedang mempersiapkan rencana membuka layanan angkutan umum  di Wasior, Teluk Wondama tersebut. "Ada beberapa rute yang rencananya akan dilayani," katanya.Pemda, katanya, pada pembicaraan dengan Perum Damri tersebut  sudah menjanjikan akan menyediakan fasilitas lahan untuk pool armada yang dioperasilan Damri di samping terminal, tetapi terminal tersebut kini rusak berat diterjang banjir bandang.Untuk itu, pada Januari 2011 pihaknya akan melakukan survey ke Wasior untuk melihat langsung rute-rute yang dilayani. "Kami siap jika menerima penugasan dari pemerintah," katanya.Ketersediaan alat transportasi, baik bersubsidi yang disediakan pemerintah maupun bukan, di Wasior menjadi salah satu  yang memerlukan perhatian serius pemerintah saat ini.Sebab alat transportasi inilah yang kini sedang dinanti masyarakat Wasior, termasuk para pengungsi supaya kota yang berpenduduk sekitar 26.000 jiwa tersebut segera kembali hidup seperti saat sebelum bencana banjir bandang menerjang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top