Ratusan Siswa di Sekitar Gunung Agung Dilatih Mitigasi Bencana

Oleh: Feri Kristianto 02 November 2018 | 22:15 WIB
Ratusan Siswa di Sekitar Gunung Agung Dilatih Mitigasi Bencana
Cahaya magma dalam kawah Gunung Agung terpantul pada abu vulkanis terlihat dari Pantai Jemeluk, Karangasem, Bali, Selasa (28/11). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan magma telah berada di kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung sehingga leleran lava pijar kemungkinan akan terjadi. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR—Ratusan siswa dan guru sekolah di sekitar kaki Gunung Agung, Karangasem diajak untuk membenahi fasilitas keamanan sekolah sebagai bagian dari mitigasi bencana dan pembentukan Sekolah Siaga Bencana atau SSB.

Tujuan SSB adalah mensosialisasikan konsep sekolah siaga bencana khususnya terkait bahaya letusan gunung api dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon terhadap bencana letusan gunung api (kerentanan). Dr. Asep Saepuloh dari ITB mengatakan kawasan Gunung Agung berpotensi erupsi  sehingga daerah sekitarnya rawan bencana karena banyak terdapat pemukiman dan sekolah.

“Sekolah adalah salah satu lokasi yang paling berisiko karena banyak siswa, guru dalam satu area sedang belajar mengajar,” jelasnya dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).

Upaya penyelamatan diri dan pengurangan risiko yang bisa dilakukan adalah sosialisasi SSB dan melatih bagaimana cara penyelamatan yang aman. Sejumlah hal yang harus dipertimbangkan di antaranya akses masuk dan keluar yang aman termasuk untuk tempat pengungsian sementara bagi masyarakat saat bencana. Fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai, pemantauan, pendanaan dan pengawasan terus menerus untuk perawatan fasilitas dan keselamatan, serta rambu keselamatan memadai.

Komponen pendidikan siaga bencana ada beberapa pilar. Pertama adalah fasilitas sekolah aman. Meliputi desain dan pembangunan sekolah yang sesuai dengan aturan dan standar keamanan bangunan, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah dan fasilitasnya pasca bencana dan melakukan perawatan sarana dan prasarana pendidikan.

“Selain itu melakukan penataan ruang kelas agar aman di saat ancaman bencana terjadi, pengadaan fasilitas pendukung seperti adanya perlengkapan tanggap darurat di setiap ruangan seperti alat pemadam kebarakaran, tanda evakuasi, dan lainnya. Tidak lupa juga pengawasan secara berkala mengenai keamanan gedung sekolah,” jelasnya.

Dr. I GB Eddy Sucipta, ahli geologi dari ITB memaparkan pengetahuan tentang gunung api seperti jenis letusan, apa yang terjadi pasca letusan, dan memperlihatkan sejumlah video letusan gunung.

Indonesia juga merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.  Indonesia juga memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia, 127 buah, beberapa di antaranya merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah ada.

Dalam sosialisasi dan pelatihan ini siswa dan guru mendemonstrasikan cara-cara penyelamatan diri yang aman jika terjadi bencana. Selain itu, ratusan siswa dan guru juga dilatih tim jurnalisme warga mengenal berita bohong (hoaks) agar tidak mudah panik dan menyebar informasi salah. 

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya