Perairan Bali Harus Dikelola Hati-Hati, skor OHI Hanya 51

Oleh: Feri Kristianto 30 Oktober 2018 | 17:47 WIB
Perairan Bali Harus Dikelola Hati-Hati, skor OHI Hanya 51
Perairan Bali

Bisnis.com, MANGUPURA—Kawasan perairan di Bali harus dikelola secara hati-hati karena berdasarkan hasil Ocean Health Index atau OHI+ 2018 menunjukkan skor hanya sebesar 51 dari total 100.

Tantangan terberat dari kawasan perairan di Pulau Dewata saat ini adalah industri pariwisata yang membutuhkan kawasan perairan sebagai objek wisata. Kadis Kelautan dan Perikanan Bali Made Gunaja menuturkan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mendorong pengelolaan perairan lebih baik lagi adalah perluasan hutan mangrove.

“Tekanan terbesar adalah pemanfaat kawasan perairan seperti di Nusa Penida, banyak sekali wisatawan datang dari pagi sampai sore hari. Ini harusnya diatur,” tuturnya saat pengumuman OHI+ 2018 di Nusa Dua, Selasa (30/10/2018).

OHI+ 2018 merupakan pengukuran tingkat kesehatan kondisi perairan. Pengukuran ini baru pertama dilakukan di Indonesia dan Bali. Tim penilai dilakukan oleh tim yang khusus dibentuk dan berasal dari 14 institusi. Sumber penilaian berdasarkan data-data terkait kawasan perairan yang dimiliki oleh setiap daerah dengan jangka waktu minimal 5 tahun sebelumnya.

Ada 10 indikator yang dinilai, yakni keberhasihan air, perlindungan terumbu karang, keragaman spesies, cadangan karbon (mangrove), food provision, pariwisata, sense of place, natural product, artisanal fishing opportunities, dan kesejahteraan terhadap masyarakat sekitar. Dari seluruh indikator tersebut, untuk kesejahteraan terhadap masyarakat sekitar belum rampung diukur.

Adapun dari 9 indikator yang sudah dinilai, tingkat keragaman spesies mendapatkan skor paling tinggi yakni 94, sedangkan cadangan karbon mendapakan nilai terendah yakni 24.

Gunaja mengungkapkan tingkat keragaman spesies di perairan Bali mencapai 935 spesies sedangkan 38 spesies mendapatkan ancaman kepunahan. Adapun untuk mangrove disebabkan oleh ancaman di daerah pesisir.

SEmentara itu jika diukur dari kabupaten yang dinilai, Buleleng mendapatkan skor OHI+ terbesar yakni 61, sedangkan Gianyar menjadi daerah yang mendapatkan skor terendah yakni 35. Gunaja menyatakan pihaknya terus berupaya menggandeng kalangan pariwisata untuk menjaga kawasan pesisir. Upaya memperluas aeral mangrove sebagai lokasi cadangan karbon juga dilakukan dengan bekerja sama dengan masyarakat.

“Tantangan terbesar memang sinergi karena seperti mangrove itu kami harus bekerja sama untuk memperluas lahan,” tuturnya.

Koordinator Conservation International Indonesia Bali I Made Iwan Dewantama menekankan skor penilaian tersebut bukan merupakan bentuk penghakiman terhadap kualitas perairan Bali. Pasalnya, OHI+ ini merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia.

Dia menekankan hasil yang diperoleh untuk memberikan salah satu bentuk memberikan gambaran bagi institusi melakukan perbaikan.

“Jadi konteksnya bukan gugdement tetapi bagaimana improvement atas kondisi yang ada. Penelitian ini alat yang bagus untuk menjaga perairan. Apalagi kewenangan pengeloaan pesisir sekarang berada di pemprov sehingga bagaimana ini bisa membuat lebih baik dan dapat dikolaborasikan dengan institusi lain,” jelasnya di lokasi sama.

Kepala Balai Riset dan Observasi Laut KKP I Nyoman Radiarta menekankan salah satu tantangan dalam membuat OHI ini adalah masalah ketersediaan data rangkaian waktu atau time series. Menurutnya, skor 51 tersebut membuktikan bahwa pemerintah dan masyarakat masih harus bekerja sama mengelola laut secara berkelanjutan.

“Kami merasakan data yang dikumpulkan sangat terbatas. Semoga hasil ini dicopy ke daerah-daerah lain sehingga bisa melihat kondisi perairan di Indonesia,” paparnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya