Karantina China Mulai Cek Kesiapan Ekspor Buah Naga Indonesia

Oleh: Feri Kristianto 28 Oktober 2018 | 20:53 WIB
Karantina China Mulai Cek Kesiapan Ekspor Buah Naga Indonesia
Rombongan karantina China cek kemasan buah naga di Denpasar.

Bisnis.com, DENPASAR – Otoritas karantina pemerintah Cina meninjau rumah kemasan buah naga di Denpasar sebagai persiapan penyusunan protokol masuknya buah naga ke negara tersebut.

Ketua rombongan otoritas karantina Cina Chang menuturkan peninjauan ini bagian dari mitigasi risiko organisme pengganggu tumbuhan. Hal ini dilakukan untuk memverifikasi kesesuaian data teknis yang telah disampaikan pihak Karantina Indonesia terkait mitigasi risiko pada jaminan kesehatan tumbuhan.

"Sehingga produk yang dihasilkan dapat terjamin kualitasnya dan bebas dari organisme penganggu tumbuhan," jelasnya dikutip dari siaran pers, Minggu (28/10/2018).

Peninjauan karantina China didampingi Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Denpasar Irsan Nuhantoro. Otoritas karantina Cina lakukan kunjungan selama 3 hari di Denpasar.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pertanian, buah Naga (Hylocereus sp) saat ini tumbuh merata d Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Banten dan Jawa. Dengan luas area produksi 2.673 ha dan Banyuwangi merupakan area terbesarnya hampir 90% dengan total produksi 280 ton di tahun 2017. Bentuknya yang eksotis dengan rasanya yang manis dan khasiatnya bagi kesehatan membuat buah ini banyak diminati negara Singapura dan Timur Tengah dan kini bersiap masuk ke pasar China.

Petugas otoritas China melaukan kunjungan ke gudang pemilik dan melihat langsung proses pemeriksaan Inline Inspection oleh karantina Denpasar. Mulai dari lahan tanaman buah naga, kemudian ke rumah kemas hingga ke laboratorium Karantina Tumbuhan.

Hasil dari kunjungan ini nanti akan ditindaklanjuti sebagai bahan penyusunan protokol yang menjadi ketetapan sistem operasional prosedur dalam menangani komoditas buah naga untuk ekspor ke China/Tiongkok.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian akan mengawal ketat protokol karantina tiap produk pertanian yang akan diperdagangan di pasar global.

"Kunci utama menembus pasar global bagi produk pertanian adalah adaptasi, konsistensi, dan inovasi," kata Dr. Antarjo Dikin, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati.

Untuk jaminan keamanan pangan produk segar asal tumbuhan jika dibutuhkan negara tujuan ekspor, maka otoritas keamanan pangan di masing-masing provinsi dapat mengeluarkan sertifikat Jaminan Keamanan Pangan atau fit for human consumption, jelas Antarjo.

Jaminan keamanan pangan dilihat dari penggunaan bahan kimia berbahaya dalam budi daya. Hal ini dilakukan melalui uji laboratorium pangan untuk menyatakan bebas bahan kimia berbahaya atau pestisida serta harus mengikuti standard Good Agriculture Practice atau GAP.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya