‘Emak-emak’ di Lombok Perangi ‘Stunting’

Oleh: Newswire 25 Oktober 2018 | 07:20 WIB
‘Emak-emak’ di Lombok Perangi ‘Stunting’
Ilustrasi anak \\\'stunting\\\' atau kerdil yang antara lain disebabkan kurang gizi./Istimewa

Bisnis.com, LOMBOK BARAT - Kaum ibu yang tergabung dalam Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, berkomitmen menekan jumlah anak menderita penyakit tumbuh pendek atau "stunting" yang masih tinggi di daerah setempat.

Ketua TP-PKK Kabupaten Lombok Barat, Hj. Khairatun Fauzan Khalid, Kamis (25/10/2018) mengatakan, para kader yang tersebar hingga tingkat desa harus memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan bagi sang anak untuk mencegah "stunting".

"Pemenuhan gizi pada usia 1000 hari pertama kehidupan menjadi langkah awal mencetak anak bangsa yang sehat dan cerdas," ujar Khairatun dalam sosialisasi yang digelar TP-PKK Kabupaten Lombok Barat, bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.

"Stunting" adalah kondisi gagal tumbuh pada anak bayi di bawah lima tahun (balita) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Menurut Khairatun, kekurangan gizi dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir atau dalam 1000 hari pertama kehidupan. Namun, kondisi gagal tumbuh secara normal baru nampak setelah anak berusia dua tahun. Kondisi tersebut berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit dan penurunan produktivitas.

Saat ini, kata dia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi "stunting" yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya.

Prevalensi anak gagal tumbuh kembang secara normal di Indonesia masuk dalam kelompok tinggi, bersama negara-negara Afrika dan Asia Selatan.

Menurut data Riskesdas 2013 Kementerian Kesehatan RI, ada sekitar 37 persen atau kurang lebih 9 juta anak balita di Indonesia mengalami masalah gangguan pertumbuhan fisik secara normal akibat kekurangan gizi.

 Di NTB sendiri mencapai sekitar 150 ribu anak. Sedangkan dari 65 ribu balita di Lombok Barat, sebanyak 32 persen mengalami tubuh pendek dan tidak ideal dengan usianya. Angka tersebut turun dari sebelumnya sebesar 49 persen.

"Ini tentunya sebuah angka yang serius. Namun progres penurunan angka 'stunting' di Lombok Barat, dinilai sangat baik oleh pemerintah pusat," ujarnya.

 Ia mengatakan 1000 hari pertama kehidupan tidak selalu tentang akademik. Hal itu juga bisa dilihat dari pengetahuan akan kesehatan.

Rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan di masyarakat bisa berakibat pada terganggunya tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, Khairatun berpesan kepada para kader untuk selalu memantau perkembangan anak hingga usia 6 tahun. Usia tersebut merupakan usia emas bagi seseorang.

Sumber : Antara

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya