Pariwisata Bali Desak Larangan Praktik Jual-Beli Kepala Terkait Turis China

Oleh: Ema Sukarelawanto 22 Oktober 2018 | 19:30 WIB
Pariwisata Bali Desak Larangan Praktik Jual-Beli Kepala Terkait Turis China
Sejumlah wisatawan melihat patung nelayan setibanya mereka dari berwisata dengan kapal laut di dermaga Serangan, Denpasar./Antara

Bisnis.com, DENPASAR—Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Bali berharap pemerintah melarang ‘jual-beli kepala’ dalam praktik paket wisata murah dari China ke Pulau Dewata.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) atau Bali Tourism Board Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan praktik jual beli kepala yang telah berlangsung sejak 2001 harus segera diakhiri melalui regulasi dari pemerintah.

“Kami juga mengimbau kepada pelaku industri untuk mengunakan platform WeChat untuk promosi Bali ke pasar China yang selama ini dijejali dengan paket wisata murah dan eksploitasi belanja,” katanya, Senin (22/10/2018).

Partha Adnyana mengatakan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat tiga pengusaha yang mengontrol 18 toko dalam jaringan paket murah atau ‘zero dollar tour’, praktik ‘jual-beli kepala’ bakal berakhir 1 Desember 2018.

Penggunaan WeChat Pay di toko-toko tersebut juga harus dilarang karena belum ada aturannya. Ia menyarankan untuk memudahkan wisatawan China bisa memakai pembayaran Union Pay yang teraviliasi dengan BCA dan Maybank. 

GIPI juga mendorong semua pihak berkomitmen ikut memperbaiki tata niaga yang berlangsung sejak 2001 yang tidak hanya merugikan secar ekonomi, tetapi juga merusak citra pariwisata..

Upaya GIPI ikut membenahi tata niaga ini didukung Konsulat Jenderal China di Bali karena banyak warga Negeri Tirai Bambu yang kecewa dan komplin dengan layanan yang didapat dari paket wisata murah.

Partha Adnyana mengatakan pihak konjen memperkirakan akan ada penurunan wisatawan setelah penghentian pemasaran ‘zero dollar tour’ ini, tetapi optimistis ke depan gelombang wisatawan China ke Bali akan meningkat lebih baik lagi.

Ia menyebut setiap hari sekitar 3.000-3.500 wisatawan China masuk Bali, 60% di antaranya mengikuti paket wisata murah tersebut.

Agung Partha yakin dengan melakukan promosi yang tepat akan dapat meraih wisatawan premium dari China seperti halnya Thailand yang dengan tegas telah melarang praltik ‘jual beli kepala’ dalam tempo 2 bulan.

Saat ini GIPI Bali sedang menyiapkan rekomendasi yang diminta Konjen China tentang daftar biro perjalanan wisata, hotel, restoran, destinasi pariwisata, tempat belanja dll.

Rekomendasi tersebut akan dijadikan referensi bagi biro perjalanan di China yang menggarap pasar Indonesia, khususnya Bali, agar mendapatkan fasilitas dan pelayanan standar.

Ketua Asita Bali Ketut Ardana mengatakan sebenarnya Bali Liang, komite pasar wisatawan China Asita Bali telah berulang kali membuat kesepakatan dengan toko-toko jaringan paket wisata murah, tetapi hanya bertahan 4-5 bulan saja. 

Ia yakin upaya terpadu yang dilakukan GIPI dan pemerintah bakal mengakhiri praktik ‘jual-beli kepala’, seraya berharap bisa mendapatkan agen travel dan market China yang lebih baik.

Ketua Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bali I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha mengatakan usahanya pernah terguncang akibat melayani biro perjalanan yang menjual paket wisata murah ini. Usaha rafting Inda pada 2004 menghentikan bekerja sama menggarap pasar China hingga kini.

“Kami ditekan dengan harga yang sangat murah dan ujung-ujungnya tidak terbayar. Mudah-mudahan dengan upaya GIPI dan pemerintah saat ini kami bisa mendapatkan pasar wisatawan China yang lebih baik,” ujarnya. 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya