Paket Wisata Murah dari China ke Bali Segera Berakhir

Oleh: Ema Sukarelawanto 21 Oktober 2018 | 18:20 WIB
Paket Wisata Murah dari China ke Bali Segera Berakhir
Turis China/gbtimes.com

Bisnis.com, DENPASAR - Sebanyak 18 toko yang merupakan bagian dari paket wisata murah dari China ke Bali sepakat untuk menghentikan praktik komisi ‘jual beli kepala’ per 1 Desember 2018.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan telah bertemu dengan 3 pengusaha yang mengontrol operasional 18 toko tersebut dan membuat kesepakatan yang bakal mengakhiri paket wisata murah tersebut.

“Ini merupakan upaya kami untuk memperceat penanganan paket wisata murah melalui pemnasaran ‘zero dollar tour’ yang merusak citra pariwisata dan merugikan negara,” katanya, Minggu (21/10/2018).

Menurut Partha Adnyana yang akrab disapa Gus Agung, jika toko-toko ini benar-benar melaksanakan lima butir kesepakatan pada awal Desember, paket wisata murah dari China ke Bali akan berkahir.

Lima kesepakatan tersebut, pertama, semua toko belanja menghentikan segala transaksi dengan metode ‘komisi jaminan’ kepada agen perjalanan yang terlibat. Satu-satunya komisi yang memungkinkan tidak lebih dari 40%.

Kedua, setiap transaksi di semua toko belanja wajibmenggunakan sistem pembayaran resmi yang berlaku di Indonesia.

Ketiga, seandainya toko belanja tersebut mempekerjakan tenaga kerja asing harus mengurus perizinannya sesuai hukum dan peraturan nyang berlaku di Indonesia.

Keempat, setiap produk yang dijual dan dipajang di toko belanja harus memenuhi syarat hukum dan spesifikasi yang ditentukan oleh Standar Nasional lndonesia (SNI)

Kelima, semua toko belanja wajib mengikuti semua aturan dan kebijakan yang berlaku yang sejalan dengan hukum yang berlaku di Indonesia terkait dengan keimigrasian, keuangan, legalisasi, dan perdagangan.

Sidak ke Toko

Sebelumnya, Gus Agung menuturkan telah melakukan sidak ke sejumlah toko yang berkedok menjual cenderamata tersebut bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan mendapati eksploitasi pariwisata yang diduga mengakibatkan kebocoran devisa.

Kata dia, wisatawan asal China yang membeli paket wisata murah ini setiba di Bali wajib belanja ke sejumlah toko yang merupakan jaringan yang menjual barang-barang impor dari Negeri Tirai Bambu.

Wiraniaga di tempat belanja tersebut merupakan tenaga kerja asing yang kemungkinan tidak memiliki izin kerja atau diduga melanggar ketentuan imigrasi.

Gus Agung memperkirakan adanya kebocoran ekonomi pariwisata dari eksploitasi belanja ini sekitar US$390 juta. Jka ditambah ‘lost opportunity’ sekitar US$260 juta. Total kerugian dari praktik ini mencapai US$650 juta per tahun.

Konsulat Jenderal China di Denpasar juga telah merespons persoalan ini dan mengajak kerja sama dengan GIPI Bali untuk merekomendasi biro perjalanan wisata, hotel, restoran, destinasi pariwisata, tempat belanja. yang memenuhi standar pelayanan industri pariwisata nasional Indonesia.

Konjen akan memberikan rekomendasi tersebut sebagai referensi bagi biro perjalanan di China yang menggarap pasar Indonesia, khususnya Bali, agar mendapatkan fasilitas dan pelayanan standar.

 

 

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya