Tiga Pameran Seni Rupa di Ubud Merespons Kekinian

Oleh: Ema Sukarelawanto 07 Oktober 2018 | 12:46 WIB
Tiga Pameran Seni Rupa di Ubud Merespons Kekinian
Luikisan Citra Bali dalam Lapisan Ilusi 2\\" karya Wayan Suja./Bisnis-Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, GIANYAR—Akhir pekan ini, tiga pameran seni rupa di Ubud menawarkan aneka wacana yang kian mengukuhkan eksistensi perupa dalam mengeksplorasi ruang dan waktu yakni keberagaman media dan merespons isu kekinian.

Pertama, pameran Inner Gazing di Komaneka Fine Art Gallery menyajikan karya empat perupa yakni Wayan Januariawan, Wayan Suja, Wayan Sudarna Putra, dan Putu Sudiana.

Pemilik galeri Koman Wahyu Suteja mengatakan pameran ini merupakan wahana bagi keempat seniman untuk bereksperimen dengan seni kontemporer secara bebas. 

“Mereka bebas menawarkan gagasan dan perspektif dalam wacana kekaryaan sesuai zamannya,” kata Koman, Minggu (7/10/2018).

Menurut Koman, bahasa visual perupa ini menarasikan berbagai isu yang sehari-hari ditemui di lingkungan sekitarnya, juga mencerna berbagai berita yang berkelindan melalui media social.

Keempat perupa ini memiliki wilayah jelajah eksplorasi kekaryaan yang berbeda, mulai pilihan gaya visual, cara ungkap, hingga konsep dan pandangan tentang berkesenian. Karya empat perupa itu bisa dinikmati dalam pameran yang berlangsung 7 Oktober -7 November 2018.

Pameran kedua, di Arma Museum bertajuk The Challenge of Contemporaneity yang menyajikan karya 23 perupa dari Bali dan Yogyakarta di antaranya Antonius Kho, AS Kurnia, Budi Ubrux, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Nasirun, Galung Wiratmaja, Ida Bagus Purwa, MadeGunawan, dan Made Wiradana.

Pameran yang dibuka Wakil Gubernur Bali Tjjokorda Oka Arthja Ardhana Sukawati, Sabtu (6/10/2018)  itu akan berlangsung 6 Okrtober-6 November 2018.

Pendiri dari Museum Arma Anak Agung Gede Rai mengatakan sejumlah pameran di Ubud juga untuk membangkitkan, menjaga, dan mendorong para perupa untuk lebih mengembangkan karya, khususnys menyiasati era digital dengan berbagai kemungkuinan.

“Jika dulu para kolektor datang langsung ke Bali untuk mendapatkan karya, kini dengan era digital seniman bisa menawarkan melalui platform digital yang memiliki daya jangkau global,” katanya.

Pameran ketiga, diselenggarakan Indonesian Watercolour Society (IWS) bertajuk 25 Tahun (Jubilee) IWS di Museum Njana Tilem. Pameran ini diikuiti sejumlah maestro cat air yang akan berlangsung 7-14 Oktober 2018.  

Lies Darja, panitia IWS mengatakan pameran seni rupa Jubilee ini diharapkan diharapkan mampu mempererat persahabatan antarbangsa Asia –melalui seni rupa-- serta mendukung pariwisata. 

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya