Bali Rancang Perda Energi Bersih, Pertagas Bidik 100 Hotel

Oleh: Feri Kristianto 04 Oktober 2018 | 14:53 WIB
Bali Rancang Perda Energi Bersih, Pertagas Bidik 100 Hotel
Gubernur Bali I Wayan Koster (dua dari kanan) dan direktur pemasaran korporat PT Pertamina Basuki Trikora Putra (dua dari kiri) saat meresmikan pemanfaatan liquified natural gas (LNG) di Hotel Patra Jasa, Kuta. PT Pertagas Niaga dan Patra Jasa menandatangani kerja sama penyaluran LNG ke hotel ini sebagai sumber energi.

Bisnis.com, MANGUPURA--Untuk menekan penggunaan energi tidak ramah lingkungan, Pemda Bali merancang peraturan tentang pemanfaatan energi bersih dan terbarukan.

Beleid itu diharapkan dapat mendorong tingkat konsumsi energi ramah lingkungan khususnya oleh industri pariwisata terus meningkat. Hal itu akan sejalan dengan program pemerintah daerah menjadikan Bali tidak hanya pulau bersih dan hijau, tetapi juga indah.

"Kami akan data semua hotel dan restoran dan industri lainnya dan akan keluarkan roadmap pemanfaatan energi ramah lingkungan. Paling lambat setahun harus jalan tuntas di seluruh Bali. Terpenting lagi, Pertamina sudah menyatakan kesiapannya untuk LNG," jelas Gubernur Bali I Wayan Koster di sela-sela pemanfaatan gas LNG di Kuta, Kamis (4/10/2018).

Koster mengemukakan industri pariwisata seperi hotel dan restoran akan menjadi objek dari pergub dan perda energi bersih tersebut karena keberadaanya dominan. Pelaku usaha itu akan diwajibkan untuk mengkoversi sumber energi yang digunakan saat ini ke bahan bakar ramah lingkungan seperti liquified natural gas (LNG). 

Penerapan kebijakan itu diharapkan bisa menjadi proyek percontohkan bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia terkait pemanfaatan energi ramah lingkungan. Koster menegaskan Bali sudah mendesak memanfaatkan energi ramah lingkungan karena merupakan etalase Indonesia.

Tidak saja bertujuan untuk menjaga lingkungan, tetapi lebih dimaksudkan demi meningkatkan kualitas daerah. Sebagai daerah tujuan wisata, sudah seyogyanya Pulau Dewata memiliki kualitas lingkungan lebih baik.

"Tidak saja buat masyarakat, bersih ini juga buat wisatawan kalau kesini akan nyaman sehingga akan menaikkan kualitas wisatawan yang ke sini," paparnya.

Bahkan, kata Koster, dirinya sudah mengultimatum PLTU Celukan Bawang eksisting untuk mengkonversi sumber bahan bakarnya dari batubara menjadi gas dalam tempo 3 tahun dari sekarang.

Adapun  untuk rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap kedua juga diminta tidak menggunakan bahan bakar batubara tetapi memakai gas. 

Koster menegaskan instruksi itu sudah diterima oleh investor kedua pembangkit di Bali Utara tersebut dan apabila tidak dipenuhi, maka pihaknya tidak akan memberikan izin operasi bagi PLTU Celukan Bawang tahap dua.

"Saya akan berikan izin beroperasi asalkan diubah menjadi gas. Kalau tidak, izinnya saya cabut. Sudah bicara empat mata dengan investor, dan saya katakan supaya jangan pikirkan untung saja tetapi jangka panjang dan sustainable. Akhirnya sepakat," paparnya.

Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra menyatakan dukungan dari gubernur Bali akan ditindaklanjuti. Dia menuturkan bisnis perhotelan bersaing menawarkan kenyamanan bagi tamunya.

Salah satu caranya adalah pemanfaatan energi bersih yang dapat diandalkan dan berkelanjutan untuk operasional hotel setiap saat,

Menurutnya, pertumbuhan industri perhotelan di Bali terus meningkat dari waktu ke waktu. BPS mencatat, tingkat pertumbuhan hotel di daerah ini diperkirakan sebesar 12% per tahun. Basuki menuturkan sudah ada tiga hotel bersedia menggunakan LBG sebagai bahan bakarnya.

Salah satunya adalah Patra Jasa yang akan mendapatkan  pasokan sebanyak 140 MMBTU LNG. Diperkirakan potensi konsumsi gas LNG di Bali untuk lima tahun mendatang mencapai 150 juta standard cubic feet per Day (MMSCFD). Presdir Pertagas Niaga Linda Sunarti menekankan secara infrastruktur, Bali sudah siap.

Bali merupakan daerah ketiga setelah Jakarta dan Bandung yang memanfaatkan gas LNG. Untuk suplainya, Pertagas Niaga akan menggunakan filling station PT Badak NGL di Bontang, Kaltim.

LNG tersebut kemudian dikemas dalam isotank yang kemudian diantarkan ke Bali. Ditegaskan olehnya, infrastruktur LNG dapat memanfaatkan infrastruktur eksisting di hotel.

"Industri pariwisata Bali terus tumbuh sehingga butuh suplai energi yang berkelanjutan. LNG sebagai energi bersih, inilah jawabannya," jelasnya di lokasi sama.

Pertagas Niaga menargetkan dapat memenuhi kebutuhan industri hotel dan restoran serta kafe (horeka) di Bali dengan kapasitas 1-3 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Jumlah tersebut diharapkan bertambah secara signifikan seiring dengan perkembangan perluasan pasar baik untuk sektor industri, kelistrikan dan bunkering di Bali.

Dalam tiga tahun mendatang, Pertagas Niaga membidik sebanyak 100 hotel di Bali akan memanfaatkan energi ini. Linda memastikan penggunaan LNG juga akan dapat membantu pelaku industri untuk melakuka efisiensi.

Selain lebih ramah lingkungan sehingga infrastrukturnya terjaga, LNG juga dapat menekan penghematan hingga 10-20%.

 "Ada efisiensi signifikan yang diperoleh konsumen, untuk itu kami optimistks pemanfaatan LNG ini akan terus berkembang," tuturnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya