Gianyar Diusulkan Menjadi Kota Kerajinan Dunia

Oleh: Ema Sukarelawanto 30 September 2018 | 20:08 WIB
Gianyar Diusulkan Menjadi Kota Kerajinan Dunia
Suasana pameran Topeng Retrospektif Singapadu: The Power Behind the Mask\\" yang digelar Asosiasi Seniman Singapadu Gianyar di Bentara Budaya Bali, Ketewel Gianyar./Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR—Kabupaten Gianyar diusulkan menjadi kota kerajinan dunia atau world craft city.

Tim evaluasi dari Dewan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC) telah melakukan kunjungan ke sejumlah perajin untuk melakukan penilaian sebagai bagian dari persiapan usulan keanggotaan WCC.

Ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra mengatakan pemkab bersama dekranasda setempat diusulkan masuk keanggotaan World Craft City (WCC) agar perajin dari wilayah tersebut lebih dikenal di dunia.

“Ini juga membuka peluang bagi perajin Gianyar untuk berinteraksi dengan perajin luar negeri, sehingga terjadi alih pengetahuan dan menjalin kerjasama untuk meningkatan kualitas dan bisa menembus pasar global,” katanya, Minggu (30/9/2018).

Menurut Adnyani menjadi anggota WCC merupakan suatu kebanggaan dan memacu perajin Gianyar untuk meningkatkan kualitas produk.

Kata dia industri kerajinan berbasis kreativitas seniman di Gianyar dikerjakan secara manual dan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa para pelakunya. 

Industri kerajinan tersebut mampu meningkatkan pendapatan keluarga dan membuka peluang kerja. Untuk meningkatkan daya saing diperlukan kerja sama usaha dan teknologi informasi dengan para perajin mancanegara.

Ketua Tim WCC Ghada Hiijawi Quddumi mengatakan Gianyar diusulkan menjadi anggota WCC karena dinilai yang paling memenuhi kriteria yang disyaratkan dalam upaya pengembangan industri kerajinan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menyebut peran Pemkab Gianyar dan lembaga pendidikan –melalui kurikulum di sekolah menengah-- sangat menonjol dalam upaya pelestarian industri kerajinan tersebut.

Untuk bisa ditetapkan menjadi anggota WCC, terdapat 7 kriteria yang harus dipenuhi, yakni:

  • keaslian (nilai historis)
  • originalitas (nilai budaya)
  • pelestarian (nilai transgenerasi)
  • daya pemasaran (nilai ekonomi)
  • ramah lingkungan (nilai hijau)
  • internasionalitas (nilai global)
  • keberlanjutan (nilai konsistensi)


Tim evaluasi pada Minggu (30/9/2018) mengunjungi Museum Neka Ubud, pusat kerajinan Pasar Ubud, dan Museum Blanco Ubud.

Sehari sebelumnya mereka berkunjung ke Cahaya Silver Desa Celuk, SMIK 1 Sukawati, perajin tenun Putri Ayu Blahbatuh, dan Museum Alon Desa Mas Ubud.

Bupati Gianyar I Made Mahayastra mengatakan dengan masuk sebagai anggota WCC akan semakin menggairahkan industri kerajinan dan menyejahterakan para perajin setempat.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya