4 Hektare Lahan TPA Suwung untuk Ecopark Terbakar

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 25 September 2018 | 11:38 WIB
4 Hektare Lahan TPA Suwung untuk Ecopark Terbakar
TPA Suwung di Bali terbakar/JIBI/BISNIS/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Kepala UPT Pengolahan Sampah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bali Ni Made Armadi mengatakan ada sekitar 4 hektare lahan tumpukan sampah di TPA Suwung mengalami kebakaran yang kemungkinan disebabkan cuaca panas sejak Senin (24/9/2018).

Adapun 4 hektare tumpukan sampah yang terbakar tersebut rencannya akan menjadi bagian dari proyek ecopark seluas 22,4 hektare. Tumpukan sampah yang terbakar tersebut berada di sebelah barat daya TPA Suwung dan sedang menunggu untuk ditata.

Menurutnya, kebakaran sejak Senin (24/9/2018) tersebut saat ini sudah mulai bisa dipadamkan, walaupun masih ada titik-titik api kecil yang muncu

Armadi menuturkan ketika terjadi kebakaran, pihaknya telah membongkar tumpukan sampah tersebut dan memadamkan api. Namun, banyaknya titik api cukup membuat kewalahan untuk memadamkan kebakaran tersebut.

Walaupun belum melakukan penyelidikan atas kebakaran tersebut, menurutnya hal itu bisa saja disebabkan oleh terik matahari yang panas dan tumpukan sampah yang mengandung gas metana. Kemungkinan ini lantaran berkaca pada peristiwa yang kerap terjadi tahun-tahun sebelumnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan, kebakaran juga disebabkan oleh punting rokok milik petugas maupun warga yang ada di sekitar lokasi.

“Soal kebakaran kita belum tahu pasti penyebabnya, itu memang sudah sering kejadian kalau ada musim panas sudah memang sering terjadi kebakaran, dan antispasi kita sudah sering dengan melakukan tes titik yang kita curigai akan memunculkan kebakaran, kan di sana ada thermometer, kalau panasnya naik kita langsung siram,” kata Armadi kepada Bisnis, Selasa (25/9/2018).

Menurutnya, untuk 2018, ini merupakan kejadian yang pertama. Sementara, tahun-tahun sebelumnya kejadian kebakaran akibat suhu panas memang kerap terjadi di TPA Suwung.

“Dulu pernah terbesar kalau tidak salah pada 2014, apinya tinggi yang jelas luas sekali, dulu saya tidak memetakan dan lebih sulit memadamkan karena dulu tidak ada jalan akses, tapi sekarang kita sudah punya jalan akses,” tambah Armadi. 

 

                              

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya