Selama Pertemuan IMF-WB 2018, Kebutuhan Pangan Diprediksi Meningkat 20%

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 20 September 2018 | 16:03 WIB
Selama Pertemuan IMF-WB 2018, Kebutuhan Pangan Diprediksi Meningkat 20%
Persawahan di Bali/Antara-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR -- Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bali I Wayan Mardiana memprediksi akan ada 20% peningkatan kebutuhan pangan di Pulau Dewata selama gelaran IMF-WB 2018.

Menurutnya, walaupun terjadi peningkatan kebutuhan pangan, Bali masih bisa mencukupinya. Beberapa produk pangan produksi lokal masih surplus walaupun terjadi peningkatan kebutuhan.

Soal beras misalnya, Bali masih memiliki stok sebanyak 18.000 ton. Sementara, total konsumsi penduduk lokal dan wisatawan selama setahun hanya 415.944 ton. Per tahunnya Bali juga mampu memproduksi 470.151 ton beras. 

Begitu juga dengan produk pangan lain, seperti gula yang diprediksi surplus 34.029 ton selama setahun pada 2018 lantaran produksi mencapai 61.200 ton. Minyak goreng juga diprediksi masih surplus 3.293 liter pada 2018 dengan produksi selama setahun 48.340 liter dan kebutuhan hanya 45.047 liter. 

Bawang merah juga surplus 8.000 ton dengan kebutuhan hanya 2.000 ton pada kondisi normal selama setahun dengan produksi bisa mencapai 10.000 ton pada periode sama. Cabai merah juga surplus 12.072 ton dengan kebutuhan selama setahun hanya 693 ton dari produksi 12.765 ton selama periode sama.

Menurut Wayan, hanya telur dan bawang putih yang mengalami defisit produksi sehingga mendapat kiriman dari Jawa. Ketersediaan bawang putih hanya 424 ton atau 6% dari kebutuhan 6.380 ton. Kebutuhan telur ayam sebanyak 431.920 ton sedangkan ketersedian dari produksi lokal hanya 11% atau 50.975 ton.

"Kami jamin semua ketersediaannya," kata Wayan kepada Bisnis, Kamis (20/9/2018).

Wayan menambahkan, selain menjamin ketersediaan pangan, pihaknya juga akan memastikan keamanan pangan tersebut. Terlebih akan ada beberapa produk pangan lokal Bbali seperti buah, sayur, maupun daging yang akan dikonsumsi para delegasi IMF-WB 2018. Sehingga pihaknya juga akan mengadakan pengecekan dalam waktu dekat. 

"Keamanan pangan kita jangan sampai ada isu para delegasi ada wabah korela atau diare karena konsumsi pangan tidak sehat," katanya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya