Prevalensi "Stunting" di Bali Turun Jadi 19,8%

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 18 September 2018 | 13:10 WIB
Prevalensi
Ilustrasi anak \\\'stunting\\\' atau kerdil yang antara lain disebabkan kurang gizi./Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR – Prevalensi stunting (kekerdilan anak) di Bali telah menurun menjadi 19,8% pada semester I/2018 atau turun 10% sejak 2013.
 
Kepala Dinas Kesehatan Bali Ketut Suarjaya mengatakan prevalensi stunting di provinsi itu pada 2013 cukup tinggi yakni mencapai sekitar 30%. 
 
Saat ini, prevalensi stunting di Gianyar pun diklaim sudah menurun. Gianyar sebelumnya tercatat sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi di Bali.
 
Menurutnya, posisi Gianyar telah digantikan dua kabupaten lainnya Buleleng dan Bangli. Keduanya memiliki prevelansi stunting sekitar 20%-23%. Kondisi ini berbeda dengan kabupaten lainnya di Bali yang prevalensi stunting di bawah 20%.
 
“Dua kabupaten ini masih menjadi prioritas kami, memang harus ada intervensi gizi dari hulu tidak hanya di hilir saja. Jadi, wanita sejak remaja kami edukasi gizi dengan baik,” papar Ketut kepada Bisnis, Selasa (18/9/2018).
 
Dia menerangkan pola diet remaja wanita sekarang berpengaruh signifikan dengan kondisi saat mengandung. Pihaknya pun terus mendorong edukasi kesehatan ke anak dan remaja.
 
“Kami sebenernya targetkan 20% tahun ini, jadi sudah melampaui. Kalau bisa, kami turunkan sekecil-kecilnya dan serendah mungkin,” tambah Ketut.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya