Sederet Data & Pekerjaan Rumah Pulau Seribu Masjid

Oleh: Eka Chandra Septarini 18 September 2018 | 10:50 WIB

Bisnis.com, MATARAM – Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan paska gempa bumi yang melanda pulau Seribu Masjid. Sektor pariwisata yang menjadi salah satu nadi perekonomian terdampak dengan menurunnya angka kunjungan wisatawan.

Diprediksi, NTB berpotensi kehilangan wisatawan mancanegara dalam kurun waktu 1 bulan sejak 6 Agustus hingga 6 September 2018 sekitar 100.000 wisatawan. Dampak Ekonomi yang terjadi sebesar USD100 juta dengan asumsi 1 wisatawan mancanegara mengeluarkan USD1.000 per kunjungan.

Kendati demikian, Lombok dan NTB tengah berbenah. Beberapa event baik kelas nasional maupun internasional tetap disasar guna mengembalikan gairah pariwisata. Salah satu yang tetap menjadi target adalah penyelenggaraan pertemuan IMF - World Bank. Kendati berlokasi di Bali, event internasional tersebut tetap menjadi target NTB untuk menunjukkan kondisi terkini paska gempa.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Lalu Hadi Faisal menyebutkan, sejumlah hotel yang berada di bawah naungan PHRI NTB dan juga Asosiasi Hotel Mataram (AHM) terus melakukan pembenahan dan mempersiapkan diri menyambut delegasi IMF - World Bank.

Salah satu upaya yang coba dilakukan adalah dengan menjalin komunikasi dengan maskapai untuk memberikan penerbangan tambahan ke Lombok selama event tersebut digelar. Industri perhotelan, lanjut Hadi, juga tidak akan memasang tarif tinggi untuk para delegasi tersebut.

Dia berharap pemerintah pusat melakukan intervensi dengan mendorong para delegasi mampir berkunjung ke Lombok. Menurutnya, dorongan itu sangat berarti bagi pemulihan sektor pariwisata Lombok.

"Ini artinya pemerintah tidak bisa setengah-setengah. Okupansi sudah samgat drop. Hanya recovery program yang dibackup pusat yang akan menolong," ujar Hadi.

Kondisi bencana yang melanda Lombok sempat menggangu aktivitas sektor wisata, namun dalam beberapa hari terakhir sudah berangsur pulih, termasuk Gili Trawangan yang menjadi salah satu magnet pariwisata Lombok.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal mengatakan pada prinsipnya Lombok siap menjadi tuan rumah dalam pertemuan atau penyiapan destinasi wisata untuk para delegasi IMF-World Bank.

"Nanti setelah tanggal 16 Oktober kan ada program leisure mengunjungi beberapa destiansi, termasuk Lombok," ujar Faozal.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, dalam kondisi normal, rata-rata wisatawan ke Lombok adalah 430 wisatawan mancanegara per hari atau sama dengan 13.000 per bulan. Setelah kejadian gempa hanya 100 wisman per hari, atau sama dengan 3.000 wisatawan mancanegara per bulan, sehingga terjadi penurunan 10.000 wisatawan.

Strategi Pemulihan

Bangunan rumah transisi korban gempa bumi di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Jumat (14/9/2018)./Antara-Ahmad Subaidi

Berdasarkan arahan dari Kementerian Pariwisata, strategi Pemulihan NTB Bangkit berfokus pada tiga poin utama yaitu pemulihan SDM dan kelembagaan, pemulihan destinasi terdampak bencana, serta pemulihan pemasaran tidak terdampak bencana.

Untuk pemulihan SDM dan kelembagaan SDM Pariwisata akan dilakukan trauma healing pada 1.500 SDM pariwisata di tiga lokasi yaitu kawasan tiga Gili, Senggigi, dan Sembalun. Selain itu, dari sisi industri keuangan juga akan memberikan relaksasi di bidang keuangan sampai dengan Desember 2018 denan asilitas tidak membayar bunga dan angsuran pinjaman.

Terkait pemulihan destinasi terdampak akan dilakukan dengan pendekatan 3A atau atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Pendekatan atraksi dilakukan dengan merehabilitasi kerusakan jalur trekking dan juga terumbu karang di kawasan tiga Gili.

Perbaikan dermaga dan terminal penyebrangan menjadi salah satu upaya untuk membuka kembali aksesibilitas yang sempat terputus paska gempa. Sementara itu, terkait amenitas akan dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk pasar seni, homestay, dan infrastruktur penunjang lainnya dengan berkoordinasi pada kementerian dan lembaga terkait.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan potensi kehilangan wisatawan tidak hanya terjadi di Lombok saja. Bali yang menjadi tetangga pun cukup terimbas dengan kejadian gempa yang terjadi.

"Ada potensi pariwisata nasional kehilangan wisatawan. Mungkin tidak besar di Lombok tetapi dirasakan di Bali karena orang tidak tahu Lombok atau Indonesia sebagaimana orang mengenal Birmingham atau Inggris," ujar Arief.

Kendati demikian, Arief optimistis kegiatan-kegiatan baik dengan skala nasional maupun internasional yang dilakukan bisa kembali menaikkan pamor NTB, khususnya pulau Lombok.

"Bersyukur telah dilakukan branding Sail Samota untuk recovery yang bagus. Kami akan bersurat ke Menhub agar dilakukan penyediaan fasilitas pelabuhan Teluk Nara, dan dermaga lain juga surat agar MICE diselenggarakan di sini. Target pemulihan paling lama tiga bulan," tambahnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya