IHSG Turun 7%, BEI Dorong Pertumbuhan Investor Domestik

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 13 September 2018 | 14:27 WIB
IHSG Turun 7%, BEI Dorong Pertumbuhan Investor Domestik
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (10/9/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, DENPASAR -- Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong pertumbuhan investor domestik untuk membantu meningkatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang sudah turun 7% secara year-to-date (ytd) per Kamis (13/9/2018). 

Economist BEI Adhel Rusd mengatakan investor domestik lebih memahami kondisi dalam negeri karena langsung bersentuhan dengan kebijakan pemerintah.

Saat ini, pemerintah terus mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga perekonomian Indonesia, misalnya menaikkan tarif impor, menurunkan impor minyak dengan memanfaatkan biodiesel, dan meningkatkan pertumbuhan industri dalam negeri seperti industri manufaktur. 
 
"Investor domestik yang lebih tahu pasar modal dalam negeri. Apalagi, mereka mendapatkan informasi dengan mudah mengenai kondisi perekonomian dan pemerintah pun berkali-kali telah menyampaikan ke media bagaimana cara mereka menjaga ekonomi," tuturnya di Denpasar, Bali, Kamis (13/9).
 
Adhel menuturkan saat ini perbandingan kepemilihan saham dari investor domestik dengan asing makin seimbang. Hingga semester I/2018, jumlah investor domestik mencapai 42% atau lebih tinggi dibandingkan 2014 yang masih 35%.  

Pertumbuhan investor domestik ini disebut sejalan dengan tumbuhnya investor ritel. Dalam waktu 10 tahun, jumlah investor ritel yang tadinya hanya 300.000-400.000 sudah bertambah menjadi 750.000.   

Dari sisi emiten, sudah ada tambahan 34 perusahaan yang melantai di bursa pada semester I/2018. Dengan demikian, secara keseluruhan ada 597 emiten di BEI. 

Jumlah emiten baru tahun ini ditargetkan lebih banyak dibandingkan 2017 yang sebanyak 37 perusahaan. 

"Ini merupakan pencapaian yang cukup membanggakan. Terlihat animo masyarakat meningkat di pasar modal," lanjutnya.

Meski IHSG mengalami koreksi, tapi Adhel menilai pertumbuhannya sebenarnya cukup positif dalam 10 tahun terakhir dan bahkan naik double digit. Padahal, ada banyak hal yang terjadi dalam periode 2008-2018 termasuk kebijakan stimulus The Fed pada 2013, jatuhnya harga komoditas pada 2015, dan perang dagang pada tahun ini.

Adapun penurunan IHSG kali ini dipandang turut disebabkan oleh perang dagang, yang juga berdampak terhadap mata uang emerging market termasuk Indonesia. 

"Pelemahan rupiah pada awalnya terjadi karena perang dagang dan itu dirasakan tidak hanya Indonesia tetapi kawasan emerging market. Tetapi, pertumbuhan ekonomi hingga suku bunga kita masih terjaga dan akomodatif," ucapnya.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya