Desa Jatiluwih Populerkan Beras Merah dan Kerajinan Bambu

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 05 September 2018 | 16:25 WIB
Desa Jatiluwih Populerkan Beras Merah dan Kerajinan Bambu
Jatiluwih, Tabanan/Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR – Masyarakat Jatiluwih Tabanan mulai mengenggali potensi produk lokal yakni beras merah dan bambu untuk menjadi sumber pendapatan selain mengunggulkan pemandangan sawah berundak.

I Nengah Sutirtayasa, Ketua Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, mengatakan selama ini persawahan Jatiluwih hanya terkenal dengan pemandangannya. Padahal, di sana ada beberapa potensi lokal lainnya mulai dari produksi beras merah hingga tanaman bambu yang dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan.

Dia berharap dengan diadakannya Jatiluwih Festival 2018, masyarakat memiliki ruang yang semakin luas untuk memamerkan potensi lokal tersebut. Sehingga, sumber daya manusia (SDM) lokal bisa diberdayakan.

Apalagi, selama ini sawah-sawah yang ada di Jatiluwih merupakan milik masing-masing pribadi. Sehingga, masing-masing masyarakat Jatiluwih harus diberdayakan. 

Nantinya,  di gelaran Jatiliuwih Festival 2018, masyarakat lokal akan terlibat dalam pemarean stand UMKM. Setidaknya, ada sekitar 10 UMKM memamerkan potensi lokal unggulan, yakni beras merah dan kerajinan bambu. UMKM tersebut mulai dari ragam kuliner jajanan Bali dari beras merah, teh dari beras merah, hingga ragam kerajinan anyaman bambu.

“Kita dari manajemen berusaha mewadahi masyarakat untuk bisa menampilkan karyanya [kerajinan bambu dan beras merah,” katanya, Rabu (5/9/2018).

Dia menambahkan Tabanan selama ini dikenal sebagai lumbung beras Bali lantaran persawahan yang terkelola dengan baik salah satunya Jatiluwih. Persawahan Jatiluwih selain memiliki pemandangan sawah berundak yang indah, juga memiliki sistem tata kelola air yang komunal dan berkeadilan. Kondisi ini ditunjang oleh adat istiadat masyarakat yang sangat kental.

Menurutnya, ikatan kekerabatan dan adat telah menjadikan masyarakat bersepakat untuk mengelola persawahan dan sistem irigasinya atau subak dengan baik. Adat dan kebudayaan ini pun berkembang menjadi tradisi yang secara turun temurun dijalankan sebagai praktek kearifan lokal. Tradisi turun temurun ini diwujudkan dalam Tri Hita Karana sebagai wujud harmoni antara manusia dengan alam dan Tuhan.

“Itulah yang menjadikan festival tahun ini memang sengaja mengambil konsep yang berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni mengusung konsep kreativitas dan budaya, berbeda dengan sebelumnya berfokus pada agriculture festival,” katanya.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya