Jatiluwih Festival Kembali Digelar, Target 30% Peningkatan Kunjungan 

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 05 September 2018 | 14:31 WIB
Jatiluwih Festival Kembali Digelar, Target 30% Peningkatan Kunjungan 
Panorama Jatiluwih, Tabanan, Bali/jatiluwih.id

Bisnis.com, DENPASAR – Jatiluwih Festival kembali digelar. Festival yang akan berlangsung pada 14 sampai 15 September 2018 itu ditarget mengalami peningkatan kunjungan hingga 30% dari realiasasi gelaran tahun sebelumnya.

Ketua Harian Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih sekaligus Wakil Ketua Panitia Jatiluwih Festival Wayang Agus P Wardhana mengatakan pada 2017 Jatiluwih Festival kedatangan sekitar 1.000 pengunjung. Pada 2018, diharapkan jumlah ini semakin meningkat setidaknya 30%.

Apalagi, memasuki tahun kedua festival, banyak perubahan yang dilakukan, mulai dari lokasi acara hingga konsep.  Sebelumnya, acara lebih berupa karnaval dengan konsep pawai jalanan. Saat ini, acara difokuskan di bukit tengah persawahan Desa Jatiluwih dengan menonjolkan pemandangan sawah yang sedang menghijau.

“Dulu kan pawai jalan yang bisa menimbulkan kemacetan, sekarang kita pilih di bukit tengah sawah dengan pemandangan indah,” katanya, Rabu (5/9/2018).

Konferensi Pers Jatiluwih Festival 2018/Ni Putu Eka Wiratmini 

Menurut Wayang Agus Jatiliuwih Festival selayaknya pagelaran pada umumnya, yakni ada stand UMKM hingga pentas seni dan musik. Setidaknya, ada sekitar 10 UMKM memamerkan potensi lokal unggulan, yakni beras merah dan kerajinan bambu. UMKM tersebut mulai dari ragam kuliner jajanan Bali dari beras merah, teh dari beras merah, hingga ragam kerajinan anyaman bambu.

Menurut Wayang, yang membedakan Jatiluwih Festival yakni lokasi acara yang berada di tengah sawah. Acara pun sengaja dilakukan pada pertengahan September 2018 karena saat itu padi sedang menghijau sehingga pemandangan festival akan semakin semarak.

Pengunjung festival akan diajak melakukan trekking di sekitar sawah sejauh 1 km sebelum memasuki lokasi pagelaran.

“Kita juga siapkan paket camping, jadi festival nanti akan digelar dua hari dua malam,” katanya.

 Ketua DTW Jatiluwih I Nengah Sutirtayasa mengatakan festival tahun ini memang sengaja mengambil konsep yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Jatiluwih Festival kedua ini lebih mengusung konsep kreativitas dan budaya. Sementara gelaran sebelumnya berfokus pada agriculture festival.

Nengah memaparkan, Tabanan selama ini dikenal sebagai lumbung beras Bali lantaran persawahan yang terkelola dengan baik. Salah satunya Jatiluwih. Persawahan Jatiluwih selain memiliki pemandangan sawah berundak yang indah, juga memiliki sistem tata kelola air yang komunal dan berkeadilan. Kondisi ini ditunjang adat istiadat masyarakat yang sangat kental.

Menurutnya, itulah yang membuat Jatiluwih Festival 2018 lebih mengangkat budaya dan kreativitas masyarakat.

 “Ini seiring dengan pendalaman dan  penggalian tema potensi unggulan Jatiluwih,” katanya.

 Jatiluwih Festival 2018 akan melibatkan komponen masyarakat lokal dengan menampilkan pagelaran budaya seperti seni musik rindik, Tari Rejang Kolosal, Tari Kecak, Tari Metangi, hingga Joged Bumbung.

Selain itu, ada penampilan musisi nasional seperti Balawan, Gilang Ramadhan, Marapu Band, Ito Kurdhi Chemistry, Ronald Gang, Andy Bayou, hingga Saharadja.

Selain itu, Arsitek Indonesia Eko Parwoto akan berkolaborasi dengan masyarakat Jatiluwih untuk membuat seni instalasi dari bambu.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya