Juli 2018 Bali Ekspor Kapal Penangkap Ikan ke China Senilai US$156.000

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 03 September 2018 | 14:49 WIB
Juli 2018 Bali Ekspor Kapal Penangkap Ikan ke China Senilai US$156.000
Ilustrasi: Kapal nelayan/Antara-Izaac Mulyawan

Bisnis.com, DENPASAR – Bali untuk pertama kalinya mengekspor bangunan terapung berupa kapal penangkap ikan dengan tonase kotor melebihi 4.000 GT ke China senilai US$156.000 pada Juli 2018. 

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Bali I Gede Nyoman Subadri mengatakan produk kapal penangkap ikan merupakan komoditas yang terhitung baru diekspor pada Juli 2018 dan sebelumnya tidak pernah diperdagangkan ke luar negeri.

Selain mengekspor kapal, Bali juga tetap mengirim komoditas ikan dan udang yang sebagian besar berupa cumi-cumi ke China senilai US$ 1.421.057.

Menurut Gede, lantaran penjualan dua komoditas tersebut, ekspor Bali ke China pada Juli 2018 meningkat hingga 413,55% dibandingkan periode sebelumnya atau meningkat 61,85% dibandingkan periode sama tahun lalu. Persentase peningkatan ekspor tujuan China pada Juli 2018 ini menjadi yang terbesar dibandingkan negara lainnya.  

“Eskpor didominasi oleh produk ikan dan udang hingga ratusan persen, selain itu, peningkatan ini juga disebabkan ekspor komoditas kapal laut dan bangunan terapung, yang pada bulan Juli 2017 tidak dilakukan ekspor ke Tiongkok,” katanya, Senin (3/9/2018).

Ekspor tujuan Amerika Serikat juga naik sebesar 30,97% menjadi sebesar US$ 3.412.913. Naiknya ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh komoditas ikan dan udang yakni tuna dan cakalang mencapai US$ 1.247.591.

Selain itu, komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan ekspor tujuan Amerika Serikat secara persentase antara lain komoditas perabot, penerangan rumah yang mengalami peningkatan hingga ratusan persen, berupa perabot rumah, tempat tidur dan perlengkapannya serta bangunan prapabrikasi.

Selain komoditas tersebut, komoditas yang juga mengalami peningkatan antara lain produk kayu, barang dari kayu yang meningkat hingga 72,78%, berupa patung kecil dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu.

“Selama tahun 2018, ekspor ikan dan udang tujuan Amerika Serikat mencapai puncak tertinggi di bulan Juli 2018,” katanya.

 Dia menambahkan, yang juga turut mendominasi peningkatan ekspor pada Juli 2018 yaitu tujuan Australia dengan peningkatan sebesar US$ 1.457.750 yang didominasi produk pakaian jadi bukan rajutan hingga ratusan persen. Selain itu, juga ada ekspor ikan dan udang, serta perhiasan atau permata ke Australia yang menyumbang peningkatan ekspor ke negara ini.

“Berbeda dengan kesembilan negara tujuan ekspor utama yang mengalami peningkatan, hanya ekspor tujuan Inggris yang mengalami penurunan sebesar 2,73% karena menurunnya ekspor produk pakaian jadi bukan rajutan mencapai 32,90% serta menurunnya produk barang-barang rajutan mencapai 76,14%,” katanya.

Kata dia, dari kegiatan perdagangan luar negeri Bali selama Juli 2018 tersebut, total nilai ekspor barang dari Pulau Dewata yang dikirim lewat beberapa pelabuhan di Indonesia tercatat mencapai US$ 46.475.569.

Angka ini mengalami peningkatan sebesar 39,38% dibandingkan nilai ekspor periode sebelumnya yang mencapai US$ 33.344.116.

Sementara itu, capaian Juli 2018 juga tercatat mengalami peningkatan sebesar 13,05% dari periode sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$ 41.112.256.

“Peningkatan ekspor baik secara month to month maupun year on year diduga karena terkait kembalinya aktivitas kegiatan ekspor setelah libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H,” katanya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya