34 Perupa Tanah Minang dan Bali Gelar Pameran Bersama 

Oleh: Ema Sukarelawanto 27 Agustus 2018 | 14:55 WIB
34 Perupa Tanah Minang dan Bali Gelar Pameran Bersama 
Perupa dari Tanah Minang dan Bali gelar pameran bersama bertajuk Japuik Taboa Jilid 2: Sabiduak Sarangkuah Dayuang, di Bentara Budaya Bali, 26-31 Agustus 2018./Bisnis-Ema Skuarelawanto

Bisnis.com, DENPASAR—Bahasa rupa menyatukan para perupa dari Tanah Minang dan Bali dalam sebuah pameran bertajuk Japuik Taboa Jilid 2: Sabiduak Sarangkuah Dayuang, di Bentara Budaya Bali, 26-31 Agustus 2018.

Pameran seni rupa ini menghadirkan karya 34 perupa asal Sumatera Barat dan Bali. Merujuk tajuk, pameran ini merupakan sebentuk ikhtiar untuk mempresentasikan upaya penemuan diri di tengah penegasan identitas budaya muasal mereka; suatu pergumulan kreatif yang kiranya tecermin pada ragam stilistik, estetik serta artistik pilihan masing-masing. 

Pengelola Bentara Budaya Warih Wisatsana mengatakan karya-karya yang dipamerkan merefleksikan pergulatan personal dan keguyuban komunal yang membayangi pencarian identitas kreativitas mereka.

“Luapan goresan di kanvas mereka adalah sebentuk kesaksian perihal proses adaptasi dan resistensi masyarakat Minangkabau terhadap problematik kebudayaannya; antara bersiteguh dengan nilai-nilai otentik akar kultur setempat, atau terbawa pesona derasnya perubahan yang bersifat global,” katanya, Senin (27/8/2018). 

Ristiyanto Cahyo Wibowo, dalam pengantar pameran ini menjelaskan bahwa pada aspek visualitas kekaryaan para perupa ini mengedepankan atas daya rasa. Merasakan sesuatu, menampilkan kemampuan dalam menyatakan perasaan secara spontan, secara fantasi; yaitu serangkaian kejadian atau gambaran perilaku yang dikhayalkan agar siap untuk kejadian – kejadian yang akan datang yang diantisipasi. 

Juga secara impuls, suatu keinginan pada desakan naluri. Intisari dari masing – masing karya sepenuhnya dalam ketahuan mereka yang membuat. Karena bahan yang dilekatkan pada media memuat limpahan maksud yang tidak bisa disamakan dengan kata. Atau, bahkan tidak dimaksudkan apapun, sebatas energi kreatif yang ditujukan ke luar diri sendiri. Seperti mengucap secara visual, bukan memvisualkan benda.

Seniman yang berpameran adalah Ade Jaslil Putra, Andrea Venandro, Diana Puspita Putri, Dosra Putra, Genta Putra Mulyawan, Harlen Kurniawan, Ibnu Mubarak, I Gusti Ngurah Putu Buda, Imam Teguh, Jack Budi Kurniawan, Jesca Delaren, Khairul Mahmud, Kharisma P. Natsir, Muslimaniati, Nasikhul Amin Alzikri, Norma Fauza, Nyoman Sujana Kenyem, Pitta Pawiroz, Prisman Nazara, Putu Bonuz Sudiana, Ramadhan Fitra, Rangga Anugrah Putra, Ridhotullah, Riska Mardatillah, Rusdi Hendra, Seppa Darasono, Stefan Buana, Syafrizal, Teguh Sariyanto, Togi Mikkel Saragitua, Ni Luh Gde Vony Dewi Sri Partani, William Robert, Yasrul Sami, Yudha Wibisono, dan Zulfa Hendra.

Mereka berangkat dari berbagai kota kelahiran di Minangkabau, di antaranya tengah mendalami seni rupa di ISI Yogyakarta dan ISI Padangpanjang. Mereka sempat berpameran di Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 2016, mengusung tajuk yang sama. 

Kata Ristiyanto menarik menyimak karya-karya terkini mereka ini seraya membandingkannya dengan buah cipta perupa-perupa seangkatan dari Bali ataupun daerah lain; terlebih mengingat fenomena yang dihadapi sesungguhnya tidak jauh berbeda, yakni bagaimana bersikap kreatif terhadap derasnya perubahan akibat kemudahan informasi era digitalisasi di segala lini kehidupan.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya