Tahun Ini, Ekonomi Bali Diproyeksi Normal Tapi Inflasi Berpotensi Tinggi

Oleh: Feri Kristianto 23 Agustus 2018 | 16:48 WIB
Tahun Ini, Ekonomi Bali Diproyeksi Normal Tapi Inflasi Berpotensi Tinggi
Sejumlah pesawat terparkir di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (20/3/2018)./ANTARA-Wira Suryantala

Bisnis.com, DENPASAR — Tingkat pertumbuhan ekonomi Bali pada 2018 diprediksi kembali normal, tapi inflasi diperkirakan berpotensi lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu.

Deputi Direktur Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Azka Subhan mengatakan dari potret capaian kuartal II/2018, tingkat pertumbuhan hingga akhir tahun diperkirakan bisa di atas 6%.

Akan tetapi, perhelatan IMF & World Bank Group Annual Meeting pada Oktober 2018 dan ditambah dengan libur akhir tahun diproyeksi bakal mengerek kenaikan harga kebutuhan pokok di Pulau Dewata. 

“Secara umum, pertumbuhan Bali cukup mengesankan. Pada kuartal II/2018 sudah 6,09%, sehingga harapan di akhir tahun kembali ke trek dulu lagi yakni selalu di atas 6%. Terkait inflasi, di Bali sekarang agak tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya, sampai Juli 2018 sudah 3,47% dan agak tinggi dari tahun lalu,” jelasnya, Kamis (23/8/2018).

Menurut Azka, dari beberapa komoditas pangan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali melihat komoditas cabai, daging, telur, hingga bawang masih potensial mengerek tingkat inflasi sehingga perlu diwaspadai.

Tantangan lain yang perlu diantisipasi adalah dari eksternal, yakni terkait volatilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

BI Bali memproyeksi pertumbuhan ekonomi provinsi itu berada pada kisaran 5,9%-6,3%. Tingkat inflasi diprediksi berada pada kisaran 2,5%-4,5%.

Penopang pertumbuhan ekonomi daerah ini berasal dari hajatan IMF & World Bank Group Annual Meeting pada 8-14 Oktober 2018 di Nusa Dua yang akan mendatangkan sekitar 15.000 orang delegasi.

Asisten II Setda Bali Dewa Nyoman Sunarta mengakui perhelatan tiga tahunan tersebut akan membawa keuntungan sekaligus harus diwaspadai dampak negatifnya terhadap inflasi. Perhelatan tersebut juga bakal membawa tantangan besar bagi Bali. 

“Ada Tahun Baru dan Natal serta harus diwaspadai betul IMF & World Bank Group Annual Meeting. Peserta acara itu juga banyak, hampir 15.000 orang, sehingga perlu dipikirkan kebutuhan pangannya. Ini berat karena dari prognosa ketersediaan pangan semuanya aman, tetapi sekarang sudah mulai ramai,” tuturnya.

Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan Bali I Wayan Mardiana mengklaim ketersediaan pangan di Bali masih aman. Dia menyebutkan ketersediaan beras serta kebutuhan pokok lainnya masih surplus dan yang mengalami defisit hanya kacang hijau.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya