Realisasi PAD Bali Sudah 51,85% dari Target

Oleh: Feri Kristianto 22 Agustus 2018 | 14:36 WIB
Realisasi PAD Bali Sudah 51,85% dari Target
Wisatawan berenang di kawasan Pantai Sanur, Bali, Minggu (10/6). Sejumlah tempat wisata di Pulau Bali mulai dipadati ribuan wisatawan domestik yang memanfaatkan waktu libur Lebaran 2018./ANTARA FOTO-Wira Suryantala

Bisnis.com, DENPASAR — Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bali pada 2018 diprediksi mencapai target senilai Rp3,35 triliun karena hingga semester pertama tahun ini sudah terealisasi 51,85% atau Rp1,74 triliun.

Optimisme itu ditopang oleh mulai membaiknya perekonomian daerah setelah tahun lalu sempat terhambat akibat dampak erupsi Gunung Agung. Selain itu, program pemutihan denda pajak yang mulai diterapkan pada semester II/2018 diperkirakan mampu menopang PAD.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bali I Made Santha mengatakan pihaknya akan meningkatkan dan menyebarluaskan informasi mengenai Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) keliling melalui penyuluhan. Selain itu, program Samsat door-to-door atau Samsat kancil menggunakan kendaraan roda dua yang dilengkapi dengan tab dan thermal printer juga digalakkan.

Langkah ini ditempuh karena inovasi Samsat keliling hingga aplikasi Samsat elektronik memiliki peminat yang tinggi. Kondisi tersebut diduga terjadi akibat belum masifnya sosialisasi ke masyarakat.

Selain itu, banyak pemilik kendaraan, khususnya di pelosok, enggan mengurus pajak mereka sehingga butuh upaya jemput bola.

“Dengan demikian, wajib pajak bisa langsung membayar di tempat. Kami juga menyebarluaskan informasi inovasi Samsat elektronik agar masyarakat dipermudah dalam pembayaran,” jelasnya, Selasa (21/8/2018).

Realisasi PAD Bali pada semester I/2018 masih ditopang oleh pajak daerah senilai Rp1,4 triliun. Kontributor utama pajak daerah adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Rp626,23 miliar, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Rp515,6 miliar, dan Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor (PBBKB) Rp184,8 miliar.

Di luar itu, ada pajak air permukaan Rp1,6 miliar dan pajak rokok senilai Rp81,6 miliar.

Selain pajak daerah, Bali juga mengandalkan pemasukan retribusi yang baru mencapai Rp19,38 miliar, hasil pengelolaan kekayaan daerah Rp73,3 miliar, dan pendapatan lain-lain Rp133,3 miliar.

Santha mengungkapkan prospek pajak daerah tahun ini semakin cerah karena penjualan industri otomotif di Bali kembali bergairah. Dia mengaku mendapat informasi dari diler bahwa Surat Pemesanan Mobil (SPM) mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Bahkan, saat ini diler justru kewalahan memenuhi permintaan. Akibatnya, laju pendapatan pajak daerah terhambat. 

“Kami sekarang justru mendorong supaya diler bisa segera merealisasikan inden kendaraan dari konsumen. Kalau bisa, konsumen segera dipenuhi pesanannya agar pendapatan ke daerah juga bergerak,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Cabang Auto 2000 Denpasar Haris Prasetya menuturkan industri otomatif di Pulau Dewata menunjukkan sinyal pertumbuhan. Untuk model seperti All New Rush, pihaknya mengaku kewalahan memenuhi pemesanan sehingga konsumen terpaksa harus inden hingga dua bulan.

“Pariwisata sudah bergerak [sehingga penjualan tumbuh],” sebutnya.

Salah satu diler Toyota ini menyebutkan penjualan pada semester I/2018 mencapai 1.798 unit atau tumbuh 8% secara year-on-year (yoy). Untuk Hiace, yang menjadi pilihan oleh agen perjalanan wisata, penjualannya naik dari 20 unit per bulan menjadi 35 unit per bulan.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya