Gempa Lombok: Saat Korban Bencana Diteror Kabar Hoax

Oleh: Eka Chandra Septarini, Saeno 08 Agustus 2018 | 14:07 WIB
Gempa Lombok: Saat Korban Bencana Diteror Kabar Hoax
Proses evakuasi korban gempa yang terjebak dalam reruntuhan Masjid Jamilul Jamaah di Dusun Karang Pangsor Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Korban dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia dan dibawa menuju Rumah Sakit terdekat./Istimewa-Basarnas

Bisnis.com, MATARAM -- Angel, warga Kota Mataram, malam itu, Minggu (5/8/2018) panik tak karuan setelah Lombok diguncang gempa 7 Skala Richter.  Sebuah screenshot pesan dari satu akun Facebook dikirimkannya kepada Lani,  kerabatnya.

Isi pesan pada foto tangkapan layar atau screenshot itu berbunyi tentang peringatan dini bahwa pada pukul 11 malam itu masyarakat diminta keluar dari rumah karena akan ada gempa susulan yang lebih besar.  Screenshot dilengkapi semacam surat edaran resmi yang dikeluarkan oleh BMKG. 

Saat itu Angel tak sempat berpikir apakah screenshot itu benar atau hoax belaka.  Satu hal yang dia ingat saat itu, Lani harus tahu kondisi yang mungkin terjadi.

Padahal BMKG sudah sering mengingatkan, sejauh ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan dan seberapa besar gempa akan terjadi. Berulang kali disebutkan, agar masyarakat tidak mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.

Tim darat Gili melakukan penyisiran dan pengecekan di bangunan yang runtuh, memastikan tidak ada lagi korban tertimpa
bangunan runtuh yang belum dievakuasi./Istimewa-SAR

Tapi  di tengah kepanikan, apalagi dalam kondisi pascabencana, isu dan informasi memang berserakan di mana-mana, entah siapa yang memulainya. 

Masyarakat awam yang tidak cukup literasi dan paham  informasi terkadang menelan mentah-mentah dan bahkan kembali menyebar kepingan informasi yang belum tentu valid tersebut kepada siapa pun yang dikenalnya. 

"Kami kan tidak tahu mana yang benar mana yang tidak. Kami hanya ingin menyelamatkan diri kami dan keluarga, kerabat serta teman-teman kami, jadi ketika ada informasi seperti ini kami akan ikuti, takutnya kalau tidak kami ikuti itu jadi bahaya," ujar Angel. 

Kemajuan teknologi memang membuat informasi mudah tersebar, termasuk serpihan-serpihan informasi yang dengan mudahnya disebar ke mana saja.

Mulai dari sosial media macam Twitter dan Facebook hingga grup percakapan Whatsapp menjadi alat yang justru mempercepat penyebaran informasi tersebut. Tanpa saringan, semua informasi bebas lepas. 

Kelatahan menyebarkan informasi tanpa pengecekan, tak hanya dilakukan awam. Sebagai pihak yang seharusnya menjadi salah satu saringan penting dalam penyebaran informasi, jurnalis pun terkadang tidak luput dari hal tersebut. 

Dalam percakapan grup Whatsapp tak jarang para jurnalis juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Angel atau masyarakat awam berita lainnya. Mereka pun begitu saja mengirimkan ulang pesan berantai atau screenshot informasi yang tidak jelas sumbernya. 

Alasannya sederhana, hanya ingin mengkonfirmasi kepada pihak yang terkait. Padahal informasi resmi dan valid bisa dengan mudah didapatkan dari jalur utama seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ataupun BMKG. 

"Kan saya cari tahu, karena dapat info dari tetangga," begitu kira-kira alasan yang kerap muncul. Tak ayal, karena yang mengirimkan pesan atau informasi tersebut adalah seorang jurnalis, maka informasi tersebut kadang sudah dianggap benar. 

Lain lagi cerita tentang kabar rampok yang merajalela pascagempa. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ada rampok atau maling yang dikoordinir sampai bertruk-truk. Bahkan beredar rekaman suara seseorang yang menjelaskan bahwa ada sekelompok maling yang diterjunkan diseluruh wilayah Lombok untuk melakukan perampokan. 

Tentunya ini menjadi masalah baru yang dihadapi warga. Setelah ketakutan akan gempa susulan yang masih terus terjadi, kekhawatiran mereka bertambah dengan kabar bahwa tingkat keamanan yang ada saat ini rendah.

Korban gempa berkumpul di tempat evakuasi/Istimewa

Warga bimbang antara memilih tinggal di pengungsian untuk menghindari robohnya bangunan atau tidur di rumah demi menjaga harta benda dari penjarahan. 

"Asli, gara-gara [berita] di FB ini warga saya yang ada ditenda kabur semuanya. Jahat banget ini manusia," ungkap Fahrul, salah seorang warga.

Senada dengan Fahrul, Idrus pun berujar hal yang sama "Kalau seperti ini kan tambah meresahkan masyarakat," paparnya. 

Pengamanan Aparat

Kehilangan atau pencurian bukannya tidak terjadi, tapi kabar soal perampokan atau penjarahan besar-besaran tak lebih dari isapan jempol belaka.

Tak hanya itu, aparat pun sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya tindak kejahatan itu.

TNI, misalnya, memperhatikan bahwa sisi keamanan menjadi salah satu yang perlu diperkuat di lokasi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat. 

Itu sebabnya, Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 162/Wira Bhakti, Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, menginstruksikan anggotanya melakukan patroli malam untuk mengantisipasi adanya pencurian yang merugikan korban gempa di Kabupaten Lombok Utara.


Puing reruntuhan bangunan yang terdampak gempa Lombok/Istimewa

"Demi keamanan rumah warga dari pencurian ataupun hal-hal yang tidak kita inginkan, jadi harus dilakukan patroli malam ke rumah-rumah yang ditinggalkan mengungsi oleh pemiliknya," kata Ahmad melalui keterangan tertulis, diterima Antara, Rabu (8/8/2018).

Ia mengatakan awalnya ada informasi yang diperoleh dari Kepala Dusun Karanglango, Desa Tanjung, Kasmiadi, bahwa warganya resah dan khawatir terhadap pencurian harta benda yang ditinggalkan di rumah.

"Satu regu dari Yonif 900 Raider/SBW menggunakan sepeda motor sudah bergerak menyisir rumah-rumah yang kosong ditinggalkan pemiliknya yang terindikasi adanya pencurian," ujar Danrem yang juga menjabat Komandan Satuan Tugas Bencana Gempa Kabupaten Lombok Barat.

Hal itu dilakukan, kata dia, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemilik rumah sehingga korban atau para pengungsi fokus memikirkan kondisinya di pengungsian atau yang sedang dirawat di tenda-tenda maupun rumah sakit.

"Kami berharap semua itu tidak terjadi dan mudah-mudahan semuanya berjalan aman dan terkendali," ujarnya.

Hanafi, salah seorang warga Tanjung, mengaku kehilangan barang dagangan berupa mie instan, air mineral, rokok. Bahkan belasan tabung gas bersubsidi ukuran tiga kilogram juga hilang.

"Saya mengetahui barang dagangan diambil orang setelah sampai di rumah dari posko pengungsian," kata Hanafi saat ditemui ketika menunggu istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit lapangan di Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.



Petugas berada di lokasi gempa Lombok/Istimewa-SAR

Seperti kita ketahui, gempa bumi berkekuatan 7,0 pada Skala Richter, telah mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Minggu (5/8) pukul 18.46 WITA.

Ribuan bangunan yang ambruk, korban yang sudah  mencapai 105 orang, belum termasuk mereka yang masih terjebak di bawah bangunan yang roboh tentu menambah cekaman para korban.

Untuk membantu mereka, ada baiknya kita pun bijak saat menerima berbagai kabar, menyaringnya terlebih dahulu sebelumnya menyebarkan kembali informasi apa pun terkait gempa. Sekali saja lupa menyaring sebelum men-"sharing" berita, maka Lombok akan mengalami "gempa yang lain" yakni gempa ketakutan dan kengerian yang semestinya bisa dihindarkan dan tidak menambah beban psikologis para korban gempa di sana.

Sumber : Antara

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya