Pariwisata Selamatkan Ekonomi Bali, ketika Industri Keuangan Kontraksi

Oleh: Feri Kristianto 06 Agustus 2018 | 15:16 WIB
Calon penumpang pesawat berada di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat (16/3/2018)./ANTARA-Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR — Perekonomian Bali pada semester I/2018 mulai menunjukkan jalur pertumbuhan tinggi meskipun masih tertahan oleh sektor jasa keuangan yang masih mengalami kontraksi.

BPS Bali mencatat, pada periode Januari-Juni, perekonomian daerah ini tumbuh sebesar 5,86%. Angka itu naik tipis dibandingan dengan periode sama tahun lalu, yang tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5,81%. Kabid Neraca Wilayah Analisis BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan pada triwulan dua, ekonomi Bali mendapatkan momentum luar biasa.

“Hotel berbintang mengalami kenaikan, penumpang pesawat internasional dan domestik sama-sama tumbuh. Ditopang dengan administrasi pemerintahan,” jelasnya, Senin (6/8/2018).

Secara triwulanan, ekonomi daerah ini pada triwulan II/2018 tumbuh sebesar 6,09%. Stimulus pertubuhan tersebut adalah jumlah wisman ke Pulau Dewata mencapai 1,59 juta orang, meningkat 22% dibandingkan dengan triwulan sama sebelumnya. Kondisi itu berimbas positif terhadap meningkatkan tingkat hunian kamar hotel berbintang dari 60,27 menjadi 67,13%.

Jumlah penumpang internasional dan domestik juga beriringan mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 22,59% dan 8,02%. Adapun administrasi pemerintah berupa belanja pegawai di lingkungan Pemprov Bali meningkat hingga 60,93%. Agus menuturkan pencairan THR untuk ASN pada triwulan dua tahun lalu yang mendorong tingginya belanja pegawai.

Siklus pertanian berupa musim panen juga ikut membantu topangan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan dua. Meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Hari Raya Lebaran dan Galungan pada periode lalu ikut berkontribusi bagi industri pengolahan dalam memenuhi produk-produk bagi masyarakat.

“Peningkatan industri pengolahan itu karena permintaan naik sehingga perusahaan berusaha memenuhi,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Agus, berbagai aktivitas pembangunan infrastruktur untuk Annual Meeting IMF & World Bank Group pada Oktober mendatang memberikan andil juga. Infrastruktur yang kini mendekati rampung pembangunannya adalah underpass Simpang Ngurah Rai, pelebaran apron dan lapangan parkir Bandara I Gusti Ngurah Rai, serta pelebaran jalan Imam Bonjol, Denpasar.

Ditegaskan olehnya jika berdasarkan sektor lapangan usaha, penyediaan akomodasi dan makan minum memberikan kontribusi paling signifikan terhadap pertumbuhan triwulan dua sebesar 1,3%. Dia menegakan laju pertumbuhan akomodasi itu akibat dari pengaruh jumlah kedatangan wisman. Agus mengungkapkanya hampir semua sumber pertumbuhan ekonomi Bali pada periode pertama ini semua tumbuh positif kecuali jasa keuangan dan asuransi.

Analis Kantor Perwakilan BI Bali Umran Usman mengatakan laju pertumbuhan pada semester I/2018 masih dalam rentang prediksi. Bahkan, khusus untuk triwulan II/2018 capaiannya mendekati batas atas perkiraan BI sebesar 6,3%. Diakuinya, laju perekonomian Bali masih tertahan dengan terjadinya konstraksi untuk sumber pertumbuhan jasa keuangan dan asuransi.

Dia mengakui hal itu sudah dapat diprediksi sebelumnya. Hasil telaah BI Bali, selama enam bulan awal ini penyaluran kredit dari perbankan masih tertahan. Dia mengatakan penyebabnya karena rasio kredit bermasalah atau NPL perbankan masih tinggi sehingga mereka membatasi penyaluran.

“Memang sejak NPL tinggi bank benar-benar berhitung. NPL tinggi juga dampak dari kredit properti yang sebelumnya belum lancar sampai sekarang,” jelasnya.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya