Generasi Muda Bali Enggan Bertani, Ini Penyebabnya

Oleh: Ema Sukarelawanto 30 Juli 2018 | 00:09 WIB
Generasi Muda Bali Enggan Bertani, Ini Penyebabnya
Petani/ANTARA-Mohammad Ayudha

Bisnis.com, DENPASAR—Generasi muda di Bali kini enggan menekuni dunia pertanian karena gengsi.

Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra mengatakan selain itu lantaran pendapatannya kalah dengan mereka yang bekerja di industri pariwisata.

“Ya, alasan utama faktor gengsi, generasi muda banyak yang ingin menjadi pejabat, politisi, kerja kantoran. Itu salah satunya karena faktor gengsi,” katanya, minggu (29/7/2018).

Menurut Dhamantra kian tingginya alih fungsi membuat lahan garapan pertanian juga kian menyempit, padahal kebutuhan hasil pertanian untuk memasok industri pariwisata terus meningkat. Inilah salah satu problem yang dihadapi Bali saat ini.

Dhamantra mengusulkan untuk menarik minat generasi muda mau bertani, di antaranya dengan menjadikan pertanian menjadi industri yang menjanjikan seperti sektor lain yang dikelola secara bisnis.

Kata dia paradigma bertani berkubang lumpur dan pendapatan yang minim –yang tak menarik bagi generasi muda—perlahan-lahan digeser dengan bertani menggunakan teknologi dan manajemen kekinian, sehingga memberikan nilai tambah sektor pertanian.

Dhamantra mengingatkan, di Bali, pertanian bukan semata sebuah usaha tani, tetapi merupakan salah satu budaya yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali. Jika pertanian terus menyusut, tanah dan budaya akan ikut tergerus.

Ia yakin dengan pengelolaan industrial di sektor pertanian bakal membuka lapangan kerja cukup luas dan sektor pertanian menjadi lebih seksi.

“Pertanian masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan bahkan menjadi industri yang menjanjikan seperti sektor lain, asalkan dikelola secara modern dan memanfaatkan teknologi,” katanya,

Pembenahan yang dilakukan di antaranya memperbaiki kualitas sumber daya manusia agar menjadikan pertanian lebih berdaya saing dengan pengelolaan yang lebih baik.

Kata dia para pemilik lahan pertanian bisa bergabung dan bersinergi dalam sebuah pengelolaan usaha tani yang profesional.Petani bisa jadi pekerja dan juga tetap sebagai 'owner' sehingga pendapatannya akan meningkat.

Untuk mendorong usaha tersbeut, lanjut Dhamantra, perlu menghidupkan kembali budaya gotong royong. Dengan gotong royong banyak hal bisa dilakukan.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya