Pacu Tingkat Hunian, Rumah Luwih Dorong Pagelaran Budaya

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 27 Juli 2018 | 17:50 WIB
Peragaan busana karya Anne Avantie menyemarakkan Rumah Luwih./Bisnis.com-Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, GIANYAR – Rumah Luwih, resor bintang lima di tepi Pantai Lebih di Gianyar, Bali, mendorong pelaksanaan berbagai event maupun pagelaran seni budaya di tempatnya untuk meningkatkan okupansi hunian.

General Manager Rumah Luwih W. Nugroho Sejati mengatakan saat ini tingkat keterisian kamar menyentuh 70%. Keadaan ini, menurut dia, jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada 2 tahun awal Rumah Luwih berdiri.

Menurut dia, lokasi Rumah Luwih cukup menjadi tantangan bagi bisnis propertinya sebab Pantai Lebih jarang menjadi pilihan lokasi wisata. Ketika berlibur di Bali, wisatawan lebih mengenal Nusa Dua atau Kuta. Sementara, walaupun Gianyar juga kerap kali menjadi pilihan wisata, yang lebih terkenal adalah Ubud.

Pantai Lebih masih menjadi pilihan wisata penduduk Bali. Pantai Lebih menawarkan pasir berwarna hitam dengan pemandangan laut lepas yang cukup memesona. Wilayah ini biasa menjadi alternatif untuk melakukan kegiatan surfing dan sangat jarang untuk dipakai berenang karena arus yang tinggi dan besar.

Sementara, saat ini, Rumah Luwih mengadakan pagelaran yang cukup besar untuk pertama kalinya dengan menghadirkan Anne Evantie.

Rumah Luwih dipilih oleh perancang kebaya kontemporer Anne Avantie untuk mempersembahkan peragaan busana ‘Cinta Putih’ yang menandai pencapaian 29 tahun dia berkarya.

"Dengan event ini sukses akan menjadi parameter bagi kami untuk mengadakan event lain," ujarnya Jumat (27/7/2018).

Dia memerinci dalam pagelaran ini akan ada 1.100 undangan yang tidak hanya datang dari Bali, melainkan juga seluruh kota Indonesiam bahkan luar negeri. Selain itu, tamu hotel dilibatkan dan dipersilakan untuk menikmati pagelaran ini.

Adapun segmentasi pasar Rumah Luwih adalah wisatawan domestik. Pagelaran budaya dan tradisi dinilai cocok untuk menggaet pasar ini. Selain itu, cocok untuk wisatawan luar negeri yang ingin lebih mengenal budaya Indonesia.

Arsitektur Rumah Luwih pun memang mengedepankan kolaborasi budaya. Rumah Luwih menggunakan perpaduan budaya kolonial, China, dan Bali pada arsitekturnya.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya