Okupansi Hotel di Pantai Kuta Tak Terpengaruh Penutupan Wisata Air

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 26 Juli 2018 | 15:09 WIB
Okupansi Hotel di Pantai Kuta Tak Terpengaruh Penutupan Wisata Air
Wisatawan menikmati suasana matahari terbenam di Pantai Kuta, Bali, Selasa (20/3/2018)./JIBI-Rachman

Bisnis.com, DENPASAR -- Okupansi hotel di sekitar Pantai Kuta masih tinggi yakni mencapai 80% dan tidak terpengaruh oleh penutupan aktivitas wisata air yang dilakukan sejak Rabu (25/7/2018) hingga Kamis (26/7/2018).

Pada Rabu (25/7/2018), gelombang tinggi di Pantai Kuta mencapai 4 meter, bahkan air laut sempat melimpah ke trotoar jalan.

Sementara kondisi hari ini, gelombang sudah mulai menurun namun pelarangan aktivitas wisata air seperti berenang maupun surfing masih dilakukan karena masih terhitung bahaya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I GN Rai Suryawijaya mengatakan okupansi hotel di sekitar Pantai Kuta masih tinggi yakni sekitar 80%.

Kondisi penutupan sejumlah aktivitas seperti berenang dan surfing di Pantai Kuta tidak mengakibatkan adanya pembatalan pada hotel-hotel di sekitar lokasi.

Walaupun air laut sempat melimpah ke trotoar, namun wisatawan tetap bisa masuk dan melakukan check in ke hotel. Adanya jalan alternatif membuat wisatawan dapat tetap menuju hotel.

Kata dia, wisatawan hotel yang lokasinya dekat pinggir pantai juga tetap melakukan aktivitas biasa.

Adapun hotel-hotel di sekitar Kuta memang menjual pemandangan langsung pantai. Sehingga, beberapa hotel jaraknya ada sekitar 75-100 meter dari pinggir pantai.

Keselamatan wisatawan saat dalam hotel yang jaraknya sekitar 75 meter dari bibir pantai pun masih dapat dipastikan.

"Tidak lebih dari 20 hotel yang ada di pinggir pantai terdampak gelombang tinggi, tapi tidak ada kerugian karena ini hal yang biasa, bahkan wisatawan tetap beraktivitas biasa," katanya kepada Bisnis, Kamis (26/7/2018).

Menurutnya, hotel-hotel di sekitar Pantai Kuta telah mengantisipasi dengan baik fenomena alam ini. Walaupun jarak hotel cukup dekat dengan bibir pantai, namun properti yang mereka jual yakni berupa kolam renang maupun cafe-cafe.

Sehingga, ketika gelombang tinggi, wisatawan yang ingin berjemur tetap dalam melakukannya di pinggir kolam dengan tetap mendapatkan pemandangan pantai seperti biasa.

"Jika biasanya berjemur di pinggir pantai sekarang kita evakuasi ke kolam renang," katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya