Termiskin di Bali, Karangasem Harusnya Gali Potensi Ini

Oleh: Feri Kristianto 24 Juli 2018 | 15:00 WIB
Kendaraan mengangkut siswa dengan latar belakang asap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung di Desa Datah, Karangasem, Bali, Senin (27/11)./ANTARA-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR—Kabupaten Karangasem diminta memanfaatkan keberadaan galian C dan industri pariwisata untuk mengangkat kinerja daerah yang mendapat predikat kabupaten termiskin di Bali ini.

Karangasem memiliki potensi besar pertambangan berupa galian C yang pasirnya sangat digantungkan untuk pembangunan di seluruh Bali.

Selain itu, potensi wisata tirta di Amed dan Tulamben yang sangat besar untuk memikat wisatawan dan seharusnya mendapatkan pendapatan bagi daerah.

“Dari aspek tambang, hanya Karangasem [memasok buat Bali], makanya begitu Gunung Agung meletus putus semua pembangunan di Bali. Ini sangat potensi sekaligus perlancar pembangunan fisik di sini,”paparnya, Selasa (24/7/2018).

Pastika meminta aparatnya bekerja sama dengan Pemkab Karangasem agar dapat menyelesaikan regulasi yang saat ini masih mengadang untuk memperoleh pendapatan dari tambang galian C. Salah satu regulasi itu terkait perda ketinggian lokasi tambang galian C.

Dia menilai selain tambang, Karangasem juga memiliki potensi wisata spiritual karena memiliki sejumlah pura yang disucikan oleh umat Hindu di Bali.

Adapun untuk wisata tirta di daerah itu, Pastika menilai seharusnya Karangasem bisa memperoleh pendapatan lebih besar untuk mengangkat daerah.

“Oleh karena itu saya minta bantuan provinsi. PHR dari Amed itu luas biasa tetapi tidak satu sen pun bisa dipungut karena tidak ada izin. Ini perlu penanganan,” jelasnya.

Pastika menuturkan potensi pendapatan lain yang cukup besar adalah dari minuman beralkohol. Wisata laut biasanya membuat wisatawan untuk minum minuman beralkohol usai beraktivitas.

Pastika bahkan memproyeksikan sehari minimal Rp100 juta bisa diperoleh Karangasem dari pajak penjualan mikol.

Potensi lainnya adalah keberadaan pelabuhan penyeberangan Padangbai yang menjadi jalur bagi ribuan kendaraan pengangkut barang tujuan NTB.

Hanya saja, keberadaan pelabuhan itu tidak bisa dinikmati langsung oleh daerah di bali timur tersebut.

“Karangasem seharusnya bisa menjadi terkaya kedua setelah Kabuapten Badung. Tinggal dikelola dengan baik, tetapi ada hambatan peraturan. Sumber daya di sana ada sebenarnya,” jelasnya.

Tingkat pertumbuhan ekonomi Karangasem merupakan yang terendah di Bali pada tahun lalu sebesar 5,59%. Tingkat kemiskinan di daerah ini juga yang tertinggi di Pulau Dewata sebesar 6,5%.

Adapun indeks pembangunan manusia (IPM) daerah ini pada 2017 sebesar 65,57 terendah di Bali, meskipun meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya 65,23.

PAD daerah ini tercatat baru mencapai Rp234 miliar, dan berpotensi tertahan karean dampak erupsi Gunung Agung.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya