Bisnis Properti Residensial di Bali Mulai Pulih

Oleh: Feri Kristianto 23 Juli 2018 | 18:58 WIB
Ilustrasi: Properti mewah di Ubud, Bali./Antara-Dewa Wiguna

Bisnis.com, DENPASAR – Sektor properti residensial di Bali mulai menunjukkan indikasi pemulihan yang tercermin dari terjadinya kenaikan harga jual.

Hasil survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali pada triwulan II 2018,  baik properti primer dan sekunder sama-sama naik.

Indeks harga properti residensial primer (IHPR) pada triwulan II/2018 tercatat sebesar 185,44, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 185,23.

“Berdasarkan tipe rumah, peningkatan terutama terjadi pada rumah tipekecil, sedangkan tipe rumah menengah dan besar masihbelum menunjukkan peningkatan,” jelas Kepala KPw Bali Causa Iman Karana melalui keterangan tertulis pada Senin (23/7/2018).

Indikasi akselerasi juga terjadi pada harga rumah sekunder di wilayah Denpasar dan sekitarnya mengalami kenaikan dari rata-rata 0,28% (yoy) pada triwulan pertama, menjadi 0,74% (yoy) pada triwulan kedua.

Causa mengatakan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III/2018 diperkirakan akan kembali menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan tipe rumah, perkiraan kenaikan secara tahunan maupun triwulanan terutama didorong oleh tipe kecil dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,04% (yoy) atau 3,94% (qtq).

Kenaikan itu diikuti oleh tipe rumah menengah sebesar 0,01% (yoy) atau 1,25% (qtq) dan tipe besar 0,01% (yoy) atau 0,69% (qtq).

“Optimisme responden SHPR Primer terhadap perkiraan peningkatan tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi Bali secara keseluruhan, serta implementasi relaksasi kebijakan loan to value (LTV) oleh Bank Indonesia,” paparnya.

Pulihnya sektor properti residensial juga tercermin pada peningkatan penyaluran kredit perbankan untuk kredit pemilikan rumah (KPR), apartemen dan ruko/rukan pada 2 bulan terakhir. KPR pada periode Mei dan Juni 2018 masing-masing tumbuh sebesar 6,12% (yoy) dan 6,64% (yoy).

Secara nominal posisi penyaluran kredit tercatat Rp9,7 miliar pada Mei 2018, dan senilai Rp9,75 miliar pada Juni 2018.

Causa optimistis pada Agustus sektor properti akan semakin bergairah karena adanya kebijakan pelonggaran kebijakan LTV atau finance to value (FTV). Dia yakin kebijakan itu dapat menstimulasi pertumbuhan KPR yang mulai menunjukkan tendensi peningkatan.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya