TNI AL Gelar Pengamanan Jelang Pertemuan IMF-World Bank

Oleh: Ema Sukarelawanto 20 Juli 2018 | 17:27 WIB
TNI AL Gelar Pengamanan Jelang Pertemuan IMF-World Bank
Komandan Pangkalan Utama TNI AL ( Danlantamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin (tengah) bersama Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko (kiri) dan Kolonel Laut (P) Gusti Bagus Oka Tapayasa./JIBI

Bisnis.com, DENPASAR — TNI Angkatan Laut gelar pengamanan perairan laut seputar Bali menjelang Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang akan dihelat Oktober 2018 mendatang.

Komandan Pangkalan Utama TNI AL ( Danlantamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin mengatakan tetap melakukan kesiagaan mengingat Bali merupakan pulau dan area terdekatnya adalah laut yang harus dijaga keamanannya.

“Kami akan melibatkan unsur KRI di bawah koordinator Danlanal Bali dan dibantu gugus tugas yang dibentuk TNI AL,” katanya, Jumat (20/7/2018).

Menurut Edwin TNI AL akan menggelar unsur-unsur kapal perang, pesawat udara untuk patroli dan unsur pasukan kusus yang melaksanakan pengamanan di titik-titik yang akan diprioritaskan tingkat pengamanannya.

Ia juga menegaskan bahwa TNI AL bersama TNI AD, TNI AU, Polri dan masyarakat akan ‘all out’ untuk melakukan pengamanan kegiatan internasional yang akan dihadiri sejumlah kepala negara dan pemerintahan serta pemangku kepentingan bidang keuangan dari 189 negara tersebut.

Edwin menyampaikan hal itu seusai serah terima jabatan Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar dari Kolonel Laut (P) Gusti Bagus Oka Tapayasa kepada Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko.

Henricus sebelumnya menjabat sebagai Komandan Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) di Armada II, sedangkan Tapayasa selanjutnya akan ditugaskan menjadi Kepala Staf Gugus Tempur Laut Koarmada III.

Edwin menjelaskan tingkat kerawanan keamanan laut di Bali perlu terus diwaspadai. Karena seperti diketahui, Bali adalah destinasi pariwisata dunia, yang menjadi pintu masuk orang yang akan datang ke Indonesia, khususnya Bali.

Hal ini tentunya perlu diantisipasi dalam tugas ke depan. Selain itu, Bali yang berada dekat dengan perlintasan kapal-kapal yang uckup besar, tidak menutup kemungkinan bisa terjadinya tidakan-tindakan yang ilegal.

“Bali rawan dijadikan sebagai batu loncatan, seperti aksi penyelundupan baby lobster yang sempat digagalkan pihak Lanal Denpasar belum lama ini," katanya.

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya