Properti Bali Beri Sinyal Perbaikan

Oleh: Feri Kristianto 17 Juli 2018 | 12:30 WIB
Properti Bali Beri Sinyal Perbaikan
Ilustrasi perumahan./Bisnis-Rahman

Bisnis.com, DENPASAR — Penyaluran kredit ke sektor properti di Bali pada kuartal II/2018 menunjukkan tanda-tanda perbaikan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Mengutip data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, penyaluran KPR pada Mei 2018 tumbuh 6,12% secara year-on-year (yoy). Sementara itu, pada kuartal I/2018, tingkat pertumbuhannya mengalami kontraksi 11,51%.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana menilai akselerasi itu terjadi karena didorong tingginya peminat rumah KPR tipe kecil dan tipe sedang. KPR tipe kecil mencakup rumah berukuran hingga 21 meter persegi, sedangkan tipe sedang untuk ukuran sampai 70 meter persegi.

Rumah tipe kecil mengalami pertumbuhan hingga 13,53% pada kuartal II/2018, sedangkan kuartal sebelumnya anjlok hingga 68,26%. Adapun rumah tipe sedang meningkat 11,7% atau lebih tinggi dibandingkan realisasi pada kuartal sebelumnya, yang turun 17,44%.

“Kondisi ini juga sejalan dari hasil survei harga properti residensial primer kuartal II/2018 yang mengonfirmasi adanya peningkatan permintaan rumah seiring dengan kondisi perekonomian yang membaik,” jelasnya, Selasa (17/7/2018).

Menurut Causa, peningkatan terlihat dari pasokan rumah murah bersubsidi yang dibuat oleh pengembang anggota REI Bali. Banyaknya pasokan diiringi dengan tingkat kemampuan calon pembeli yang sesuai, menyebabkan penjualan properti segmen kecil dan menengah membaik.

Dia melanjutkan tanda-tanda perbaikan itu patut disyukuri karena menyebabkan efek berganda ke industri lain di Bali. Ada ratusan sektor lain yang selama ini ikut terpengaruh jika sektor properti mengalami perbaikan dan menggerakkan perekonomian daerah.

 

Pertumbuhan properti pada kuartal III/2018 diyakini akan semakin kencang dengan berlakunya kebijakan pelonggaran Loan-to-Value (LTV) yang dikeluarkan BI.

Causa memaparkan kebijakan makro prudensial yang akomodatif melalui LTV dan Financing-to-Value (FTV) ditujukan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas keuangan. Menurutnya, penyaluran kredit tetap diserahkan kepada masing-masing bank dengan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Kebijakan itu mulai berlaku 1 Agustus 2018 melalui beberapa aspek yakni pelonggaran rasio LTV untuk kredit properti dan rasio FTV untuk pembiayaan properti berskema syariah, pelonggaran jumlah fasilitas kredit atau pembiayaan melalui mekanisme inden, serta penyesuaian pengaturan tahapan dan besaran pencairan kredit/pembiayaan.

Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung kinerja sektor properti yang saat ini masih memiliki potensi akselerasi dan dampak pengganda cukup besar terhadap perekonomian.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya