Konsumsi Premium di Lombok Turun 7,80%, Pertamax Naik 54,54%

Oleh: Akhirul Anwar 13 Juli 2018 | 20:05 WIB
Konsumsi Premium di Lombok Turun 7,80%, Pertamax Naik 54,54%
Operation Head PT Pertamina (Persero) Terminal Bahan Bakar Minyak Ampenan Mataram NTB La Imbo (kanan) memberikan keterangan dalam acara media gathrering di Mataram pada Jumat (13/7/2018)./Bisnis.com-Akhirul Anwar

Bisnis.com, MATARAM – Konsumsi bahan bakar minyak jenis Premium di wilayah Lombok Nusa Tenggara Barat turun 7,80% sepanjang semester I/2018.

PT Pertamina (Persero) Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Ampenan Mataram mencatat penyaluran Premium pada paruh pertama tahun ini sebanyak 100.489 kiloliter (kl) atau turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 108.965 kl.

Operation Head PT Pertamina TBBM Ampenan Mataram La Imbo menjelaskan penurunan konsumsi Premium karena masyarakat di Lombok sudah mulai beralih menggunakan BBM jenis Pertalite dan Pertamax.

"Penyaluran Premium turun karena permintaannya turun, [konsumen] berpindah ke Pertamax dan Pertalite," ujarnya di sela-sela acara Media Gathering Pertamina MOR V di Lombok, NTB, pada Jumat (13/7/2018).

Sementara itu, penyaluran Pertamax semester I/2018 mencapai 26.928 kl, naik 22,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 22.029 kl. Begitu juga dengan Pertalite mencapai 35.392 kl atau naik 54,54% dibandingkan dengan sebelumnya yang 22.902 kl.

La Imbo menambahkan penyaluran BBM jenis solar mengalami penurunan signifikan mencapai 20,16% dari 116.892 kl menjadi 93.326 kl pada semester I/2018. Namun, hal itu disebabkan faktor teknis lantaran pembangkit listrik PLN mengambil langsung marine fuel oil (MFO) dari depo Pertamina Manggis, Bali.

"Solar turun karena [pembangkit listrik] PLN saat ini menggunakan MFO langsung dari depo Pertamina Manggis Bali. Jadi sudah tidak mengambil dari sini," ujar La Imbo.

Untuk meningkatkan pelayanan distribusi dan pengamanan pasokan BBM di Lombok, TBBM Ampenan menambah satu tangki berkapasitas 5.000 kl dan meningkatkan sarana tempat tambat kapal tanker atau conventional buoy moorings (CBM) berkapasitas 17.500 deadweight tonnage (DWT).

Kemampuan CBM selama ini hanya bertumpu pada tanker dengan bobot mati 6.500 DWT sehingga dalam sebulan TBBM Ampenan kedatangan 20 hingga 25 kapal yang sangat berisiko apabila terjadi gelombang dan ombak besar di terminal back loading ataupun lokasi.

"Pada 2019 akan dikembangkan pembangunan CBM berkapasitas 17.500 DWT yang diharapkan mengurangi kedatangan kapal yang melaksanakan suplply menjadi sekitar 15 kapal per bulan," jelas La Imbo.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya