IMF-WBG Annual Meeting: Indonesia Butuh 567 Tahun Lagi untuk Kembali Jadi Tuan Rumah

Oleh: Feri Kristianto 13 Juli 2018 | 18:08 WIB
IMF-WBG Annual Meeting: Indonesia Butuh 567 Tahun Lagi untuk Kembali Jadi Tuan Rumah
Ilustrasi/indonesia.travel

Bisnis.com, DENPASAR—Masyarakat Indonesia dan Bali secara khusus diharapkan dapat memanfaatkan pertemuan tahunan IMF dan World Bank Group di Bali. Peluang untuk kembali menjadi tuan rumah sangat langka dan kemungkinan baru akan terjadi setelah 567 tahun.

Menurut Kepala Sentral Transformasi Office IMF & World Bank Group (WBG) Adi Budiarso, menjadi tuan rumah gelaran yang melibatkan 189 negara tersebut merupakan kepercayaan sekaligus kesempatan bagi Indonesia. Inilah saatnya untuk menunjukan identitas terbaik. Dengan pertimbangan itu, pemerintah tidak hanya menargetkan ajang ini berjalan sukses semata melainkan juga memperoleh manfaat positif sebanyak-banyaknya.

“Untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya, Indonesia bebenah sejak 2015 silam. Kami melibatkan 25 kementerian dan lembaga terkait,” jelasnya dalam Disseminasi IMF-WBG Annual Meetings 2018 Regional Opinion Maker di Kuta, Kamis (12/7/2018).

Dia menekankan momentum sebagai tuan rumah harus benar-benar dimanfaatkan, jangan sampai hilang. Belajar dari pengalaman Peru sebagai tuan rumah ajang serupa tiga tahun lalu, negara tersebut membenahi bahkan membangun banyak infrastruktur. Adi menilai persiapan Indonesia jauh lebih baik karena sejumlah infrastruktur sudah tersedia seperti lokasi gedung pertemuan dan akomodasi wisata.

Adapun Peru, harus mengeluarkan dana lebih dari Rp1 triliun untuk menyiapkan perhelatan yang mempertemukan pelaku dan regulator keuangan dari 189 negara tersebut. Dengan kata lain, lanjutnya, modal senilai Rp855,5 miliar yang dikeluarkan pemerintah jauh lebih kecil dibandingkan dengan Peru.

“Belajar dari Peru, pemerintahnya menggunakan ajang ini untuk menangkap peluang sebagai hub. Mereka membangun fasiltias pertemuan sendiri. Kita di Indonesia jauh lebih siap,” jelasnya.

Adi mencontohkan salah satu peluang jangka pendek yang bisa ditangkap adalah memperkenalkan batik kepada delegasi seluruh dunia. Nantinya, dalam ajang yang berlangsung pada 8 sampai 14 Oktober 2018, salah satu warisan budaya dunia ini akan menjadi dresscode acara.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya