Kegiatan Usaha di Bali Triwulan II Membaik, Ini Analisanya

Oleh: Feri Kristianto 09 Juli 2018 | 12:58 WIB
Kegiatan Usaha di Bali Triwulan II Membaik, Ini Analisanya
Sejumlah warga lintas agama mengikuti meditasi dan doa bersama di Monumen Bajra Sandhi, Denpasar, Bali, Senin (9/7). Doa bersama lintas agama tersebut bertujuan untuk kedamaian dunia pascaterjadi letusan Gunung Agung, banjir, dan sejumlah bencana lainnya yang berdampak bagi kehidupan masyarakat./Antara-Wira Suryantala

Bisnis.com, DENPASAR — Kegiatan usaha di Bali pada triwulan II/2018 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Peningkatan itu ditopang oleh bertumbuhnya kegiatan usaha pada sebagian besar sektor, khususnya perdagangan, hotel dan restoran yang tercatat memiliki nilai saldo tertimbang (SBT) sebesar 11,09% dan sektor bangunan dengan SBT sebesar 9,29%. Hasil tersebut berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali.

“Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh faktor musiman seperti adanya Hari Raya Galungan dan Lebaran yang mendorong naiknya permintaan, khususnya di pasar domestik serta peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara pasca erupsi Gunung Agung,” jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Causa Iman Karana (9/7/2018).

Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, tingkat penggunaan kapasitas produksi juga meningkat dari 80,30% pada triwulan I-2018 menjadi 88,98% pada triwulan II-2018. Causa mengatakan pulihnya kinerja dunia usaha juga terindikasi dari membaiknya kondisi likuiditas dan rentabilitas dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Dia memaparkan kemampuan perusahaan untuk mencetak laba (rentabilitas) meningkat tercermin dari saldo bersih yang naik hampir 10 poin menjadi 57,03%. Adapun indikator akses kredit perbankan selama 3 bulan terakhir juga dinilai lebih mudah dibanding triwulan sebelumnya.

“Peningkatan tersebut disebabkan oleh persentase responden yang menganggap akses kredit mudah dan normal lebih tinggi dari yang menganggap akses kredit lebih sulit,” paparnya.

Peningkatan kegiatan dunia usaha masih belum sepenuhnya diikuti dengan pulihnya penggunaan tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan SBT tingkat penggunaan tenaga kerja masih mengalami penurunan dari 3,55% pada triwulan I 2018 menjadi -1,19% pada triwulan II/2018.

Perlambatan tersebut disebabkan oleh efisiensi yang dilakukan perusahaan pada triwulan laporan sebagai imbas penurunan kondisi usaha di triwulan I/2018. Namun demikian, kondisi ini diperkirakan akan kembali membaik di level 5,03% pada triwulan III/2018, seiring membaiknya optimisme pelaku usaha.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya