Festival Layang-Layang ke-40 Bali Diikuti Hampir Seribu Peserta

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 01 Juli 2018 | 16:26 WIB
Festival Layang-Layang ke-40 Bali Diikuti Hampir Seribu Peserta
Masyarakat Bali mengikuti Festival Layang-Layang ke-40 yang diadakan di Padang Galak, Sanur, Denpasar pada Minggu (1/7/2018)./Bisnis- Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Festival Layang-layang Pelangi (Persatuan Layang-Layang Indonesi) ke-40 berlangsung meriah dengan diikuti 963 peserta.

Persatuan Layang-Layang Indonesia (Pelangi) Bali kembali menyelenggarakan Bali Kite Festival untuk ke-40 kalinya sebagai langkah untuk melestarikan budaya dan meningkatkan kreasi masyarakat di Pulau Dewata. 

Festival layang-layang Bali ini diadakan untuk ke-40 kalinya sejak 1978 dan mengambil tempat di Pantai Padang Galak, Sanur Denpasar. Peserta datang dari seluruh kabupaten yang ada di Bali. 

Ramainya suasana festival tidak hanya datang dari riuhnya peserta dan ratusan layang-layang yang diterbangkan tetapi juga musik gamelan gong sebagai musik pengiring. Untuk membuat peserta semakin semangat, gamelan gong memang dimainkan masing-masing tim saat layang layang mereka diterbangkan.

Ketua Panitia Festival Layang Layang Pelangi Bali Ke-40 Made Susila Patra mengatakan gelaran ini rutin diadakan tiap tahun. Khusus tahun ini, festival sengaja diadakan selama 2 hari yakni Sabtu (30/6/2018) sampai Minggu (1/7/2018) karena tingginya minat masyarakat untuk ikut serta. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 963 peserta terlibat dalam lomba ini. 

Ada pun layang-layang yang diterbangkan yakni jenis bebean, pecuk, dan janggan. Namun, panitia juga memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin melakukan kreasi lebih dengan menerbangkan layang-layang model baru seperti berbentuk mobil dan sebagainya.

"Kami adakan festival ini sejak 1978 dan sekarang sudah yang ke-40, kami selalu mengadakan saat liburan sekolah terutama ke anak-anak SMA yang kreatif supaya tersalurkan di sini, selain juga untuk menjaga tradisi Bali," katanya, Minggu (1/7/2018).

Kata dia, pada awalnya, layang-layang diterbangkan oleh masyarakat Bali sebagai cara untuk mengucapkan terima kasih dan syukur kepada Dewa Padi yakni Dewi Sri karena pertanian yang berhasil. Biasanya, masa bercocok tanam akan selesai pada Juni sampai Juli. Pada bulan-bulan itu pula, masyarakat akan menerbangkan layang-layang.

Seiring waktu, festival layang-layang telah menjadi sarana masyarakat Bali untuk menunjukkan seni dan kreasi. Jika dulu biasanya layang-layang diminati orang tua, saat ini anak muda pun tidak kalah unjuk gigi. 

Seperti pantauan Bisnis pada Minggu (1/7/2018), sebagian peserta merupakan anak-anak muda yang dengan semangat menerbangkan layang-layang yang cukup besar ukurannya.

"Masing-masing layang-layang di Indonesia punya filosofi sendiri, seperti fi Yogyakarta maupun Madura, namun setelah saya keliling hanya Balu yang bisa menjaga budaya layang-layang agar ajeg, karena kami percaya sekali layang-layang membuat tanah subur," katanya. 

Menurutnya, selain karena merupakan tradisi, bulan Juni-Juli juga merupakan waktu yang tepat untuk menerbangkan layang-layang. Pada bulan-bulan tersebut, siswa-siswa banyak yang libur sekolah sehingga bisa fokus berkreasi. Kondisi angij juga pada Juni-Juli sangat mendukung untuk menerbangkan layang-layang.

"Kami banyak bergantung pada cuaca, kalau cuaca baik, akan lebih stabil," katanya. 

 

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya