Perang Meme di Pilkada Tak Sampai Membuat Masyarakat Sakit Jiwa

Oleh: Newswire 28 Juni 2018 | 10:09 WIB
Perang Meme di Pilkada Tak Sampai Membuat Masyarakat Sakit Jiwa
Ilustrasi/Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, DENPASAR - Perang meme, yang berusaha menjatuhkan lawan poltik, selama Pilkada berlangsung tidak membuat masyarakat menjadi sakit jiwa.

Psikolog dari RSUD Wangaya Kota Denpasar, Bali Nena Mawar Sari S.Psi. menilai masyarakat saat ini sudah terbuka dalam menyikapi "meme" pemilihan kepala daerah (pilkada) pada media sosial.

"Masyarakat sudah mulai bisa menerima perbedaan pendapat, karena itu bentrok fisik sudah jarang terjadi. Begitu pilkada selesai dan sudah ada quick count, maka aktivitas masyarakat sudah kembali seperti biasa," kata Psikolog Klinis di Poli Psikiatri RSUD Wangaya Kota Denpasar itu kepada Antara di Denpasar, Kamis (28/6/2018).

Psikolog yang juga pemerhati masalah anak dan remaja itu menjelaskan meme-meme yang jorok dan bahkan saling menjatuhkan memang banyak di media sosial menjelang pilkada. Namun, ujarnya, hal itu hanya bentuk euforia dan masyarakat sudah mulai terbuka dengan perbedaan pendapat.

"Buktinya, kalau pilkada selesai, maka semuanya kembali seperti biasa. Apalagi, saat ini sudah ada UU ITE yang banyak membantu masyarakat untuk mengontrol perbedaan pendapat yang keterlaluan, karena hal itu bisa dilaporkan ke aparat cyber kepolisian, Bawaslu, atau KPI," katanya.

Konsultan psikologi itu mengaku pilkada saat ini memang ada semacam "cyber kampanye" yang kadang menjelek-jelekkan calon lain untuk menjatuhkan namanya, namun kalau caranya sangat kasar akan justru mengundang antipati dari warganet (netizen), apalagi kalau terbukti hoax (berita bohong).

"Tapi, efek sampai ke kejiwaan belum ada, kecuali lucu-lucuan saja, bahkan kalau tidak bisa melihat momentum akan justru berbalik merugikan calon yang didukungnya. Generasi digital sekarang tidak mudah dipengaruhi," katanya.

Hingga kini, dirinya mengaku belum menerima atau mendengar dari institusi lain terkait adanya masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan pasca-pilkada, karena mungkin kondisi masyarakat yang sudah terbiasa dengan euforia politik praktis.

"Dua tahun lalu, saya menerima konsultasi seorang calon dalam pilkada yang kalah dan berkonsultasi. Dia mengaku susah tidur dan sering cemas, bahkan bisa tidak tidur berhari-hari, namun setelah dilakukan konsultasi akhirnya diketahui bahwa dia mempunyai utang yang menumpuk dan mengalami kekalahan," katanya.

Untuk pasien seperti itu, dirinya cukup memberikan terapi psikis, namun bila diperlukan obat-obatan, maka dirinya menyarankan ke dokter umum untuk mendapat obat penenang, obat tidur, atau obat yang diperlukannya berdasarkan hasil terapi psikis itu.

"Karena itu, saya berharap masyarakat kedepan akan semakin dewasa dan lebih terbuka lagi terhadap perbedaan pendapat, sehingga kampanye yang ada akan semakin mendidik, misalnya bukan menyerang fisik atau personel, namun bersaing dalam program, seperti debat publik yang difasilitasi KPU," katanya.

Sumber : Antara

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya