Pencoblosan di RS Sanglah Dilayani dengan Jemput Bola

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 27 Juni 2018 | 14:43 WIB
Pasien rumah sakit sanglah melakukan pencoblosan di kamar rawat inap, Rabu (27/6/2018).

Bisnis.com, DENPASAR -- Pasien Rumah Sakit Sanglah ikut menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali dengan melakukan pencoblosan pada ruang rawat inap masing-masing.

Pasien yang lengkap persyaratan mendapat pelayanan jemput bola oleh KPU Denpasar.

Sama halnya dengan pemilih pada umumnya, pasien rumah sakit yang berhak melakukan pencoblosan adalah mereka yang memiliki persyaratan lengkap.

Adapun persyaratan dan daftar pemilih dikirimkan oleh pihak rumah sakit ke KPU. Setelah melakukan pendataan, KPU kemudian mendatangi masing-masing rumah sakit lengkap dengan pengawas dan perlengakalan pencoblosan seperti bilik suara, kotak suara, dan tinta.

Adapun fasilitas jemput bola ke rumah sakit dilayani oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) terdekat. Misalnya Rumah Sakit Sanglah yang dilayani oleh KPPS TPS 11. Petugas datang membawakan formulis pemilihan, bilik suara, serta kotak suara.

Devisi Teknis KPU Denpasar Wayan Arsa Jaya mengatakan, untuk di Rumah Sakit Sanglah, ada pengajuan 334 pemilih dari pihak rumah sakit. Hanya saja, sesuai dengan persyaratan, yang terfasilitasi pelayanan pencoblosan formulir A5 hanya sebanyak 43 pemilih.

Sementara, di Denpasar setidaknya ada 18 rumah sakit lainnya yang juga terlayani pencoblosan langsung dari KPU. Dari 18 fasilitas kesehatan itu, Sanglah menjadi pasien rumah sakit terbanyak yang menjadi pemilih.

Selain rumah sakit, KPU Denpasar juga melayani rumah tahanan, yakni Rumah Tahanan Polresta Denpasar, Rumah Tahanan Polsek Dentim, dan Rumah Tahanan Polda Bali. Jika ditotal, pemilih yang terlayani fasilitas pencoblosan jemput bola yang ada di rumah sakit dan rumah tahanan Denpasar ada sebanyak 679 orang.

Kata dia, ada beberapa rumah sakit dan rumah tahanan di Denpasar yang tidak mendapat pelayanan serupa. Hal itu dikarenakan mulai dari tidak adanya rawat inap maupun data yang tidak disetor.

"Ada rumah sakit yang tidak menyetorkan data karena tidak melayani rawat inap maupun tidak beroperasi," katanya, Rabu (27/6/2018).

Menurutnya, pelayanan pencoblosan jemput bola ini memang membutuhkan pelayanan yang lebih ekstra.

Karena, bilik suara maupun kotak suara dan petugas yang berkeliling ke masing-masing kamar. Selain itu, banyak juga pasien yang sudah terdaftar sebagai pemilih ternyata sudah keluar dari rumah sakit bersangkutan.

"Inilah seninya pencoblosan rumah sakit, persiapan sudah ada tapi pasiennya tidak ada atau sakitnya parah dan tidak bisa melakukan sendiri," katanya.

Kata dia, lantaran harus melakukan jemput bola, proses pencoblosan di rumah sakit akan lebih lama dibanding TPS pada umumnya. Sehingga, pemilih yang ada di rumah sakit kemungkinan juga akan dilayani sampai sore hari.

"Pemilihan akan dilakukan sampai selesai karena mereka sudah terdaftar, kita akan melayani mereka sampai selesai," katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya